Warga Terdampak Tolato PG Panji Mengaku Tak Pernah Terima Kompensasi, Keluhan Polusi Kembali Mencuat

Moh Humaidi Hidayatullah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 20:33 WIB
PENINGGALAN BELANDA: Sejumlah warga memperbaiki sepeda motor di selatan Pabrik Gula (PG) Panji, Kamis (6/8). (HUMAIDI/JPRS)
PENINGGALAN BELANDA: Sejumlah warga memperbaiki sepeda motor di selatan Pabrik Gula (PG) Panji, Kamis (6/8). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Keluhan warga terhadap sebaran tolato atau abu halus dari aktivitas Pabrik Gula (PG) Panji kembali mengemuka. Di tengah musim giling tebu yang telah berlangsung hampir dua bulan, sejumlah warga mengaku belum pernah menerima bentuk kompensasi maupun perhatian khusus dari pihak perusahaan, meski setiap tahun harus menghadapi dampak polusi udara.

PG Panji mulai melakukan penggilingan tebu sejak 10 Juni 2026. Tahun ini target produksi disebut lebih besar dibanding musim giling sebelumnya. Namun, peningkatan aktivitas pabrik dinilai belum diikuti langkah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak.

TG, 50, warga yang tinggal di kawasan barat PG Panji, tepatnya di sekitar Pasar Panji, mengatakan selama belasan tahun tinggal di wilayah tersebut dirinya tidak pernah mengetahui adanya kompensasi yang diberikan perusahaan kepada warga sekitar.

"Saya tinggal di barat PG Panji, sudah belasan tahun. Belum pernah dengar ada kompensasi dari pihak PG," ujarnya, Kamis (6/8).

Keluhan Tolato Berulang Setiap Musim Giling

Menurut warga, persoalan sebaran tolato bukan masalah baru. Keluhan tersebut telah berulang setiap musim giling dan bahkan pernah disampaikan kepada DPRD Situbondo pada tahun 2025.

Saat itu, kata TG, pihak manajemen PG Panji sempat menemui warga yang mengadukan persoalan tersebut dan berjanji akan meminimalkan penyebaran abu.

"Dulu saya laporan ke DPRD soal tolato. Keesokan harinya humas PG mendatangi saya. Terus janji mau meminimalisir sebaran tolato. Selama dua hari benar mendingan, habis itu kumat lagi," ungkapnya.

Ia menilai hingga kini belum ada bentuk kepedulian nyata kepada masyarakat yang setiap hari terdampak debu, baik berupa bantuan sembako, layanan pemeriksaan kesehatan gratis, maupun bentuk kompensasi lainnya.

"Harusnya kan ada. Itu kan bentuk perhatian pada warga sekitar, khususnya yang terdampak," katanya.

Meski mengakui dalam tiga hari terakhir intensitas sebaran tolato mulai berkurang, TG meyakini kondisi tersebut belum tentu berlangsung lama.

Ia menduga berkurangnya polusi terjadi setelah persoalan tersebut ramai diberitakan media massa dan menjadi perbincangan di media sosial.

"Tapi saya yakin, besok-besok bakal parah lagi. Nanti kalau sudah parah tak video. Mau saya foto, biar internal PG paham situasi di lapangan," ujarnya.

PG Panji Klaim Maksimalkan Pengendalian Tolato

Sebelumnya, Manajer Teknik PG Panji, Bahtiar Yudistira, melalui perwakilannya, H. Hari, menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi emisi abu ketel melalui pemasangan teknologi water dust scrubber.

Menurutnya, alat tersebut mampu menangkap sekitar 40 ton karbon atau abu ketel dari gas buang setiap 24 jam. Sistem tersebut juga diperiksa setiap hari oleh tenaga mekanik untuk memastikan berfungsi secara optimal.

"Water dust scrubber setiap hari mampu menangkap karbon atau abu ketel dari gas buang ketel kami kurang lebih 40 ton dalam 24 jam. Water dust scrubber kami setiap hari diperiksa oleh tenaga mekanik ketel untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik," kata Bahtiar.

Ia mengakui masih terdapat sebagian abu dari bak pengendap yang telah mengering dan kemudian terbawa angin, terutama saat musim kemarau dengan kondisi cuaca panas seperti dalam dua pekan terakhir.

Sebagai langkah pengendalian, pihak perusahaan mengaku rutin melakukan penyiraman air di area penampungan abu agar debu tidak mudah beterbangan ke lingkungan permukiman.

"Kami tetap berupaya mengendalikan masalah dengan penyiraman air untuk pembasahan abu kering di emplasmen pabrik agar debu kering yang ada tidak menyebar ke warga. Pengendalian gas buang agar ke depannya tidak sampai mengganggu masyarakat sekitar PG Panji," pungkasnya.

Meski demikian, warga berharap upaya teknis tersebut dibarengi dengan perhatian yang lebih nyata kepada masyarakat terdampak. Selain pengendalian polusi, mereka menginginkan adanya komunikasi yang terbuka, evaluasi berkala, serta bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang dapat dirasakan langsung oleh warga di sekitar kawasan pabrik. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
situbondo polusi udara tolato PG Panji kompensasi warga PG Panji