Tolato PG Panji Disebut Makin Parah, Warga Pilih Tutup Rumah Saat Siang Hari

Moh Humaidi Hidayatullah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 20:51 WIB
PENINGGALAN BELANDA: Cerobong asap milik Pabrik Gula (PG) Panji tampak mengeluarkan asap tebal, Jumat (7/8). (HUMAIDI/JPRS)
PENINGGALAN BELANDA: Cerobong asap milik Pabrik Gula (PG) Panji tampak mengeluarkan asap tebal, Jumat (7/8). (HUMAIDI/JPRS)

RadarSitubondo.id – Musim giling tebu di PG Panji kembali membawa keluhan bagi sebagian warga sekitar pabrik. Sebaran tolato atau abu sisa pembakaran ketel pabrik disebut semakin parah tahun ini, membuat warga Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, memilih menutup rapat pintu dan ventilasi rumah untuk mengurangi debu yang masuk.

Bukan hanya mengotori rumah, warga mengaku sebaran abu hitam tersebut juga mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat siang hari, sebagian warga bahkan memilih tidak berkumpul di luar rumah karena khawatir terpapar polusi udara dari aktivitas pabrik.

GT, 50, warga Kelurahan Mimbaan, mengatakan kondisi sebaran tolato tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, abu dari PG Panji lebih sering beterbangan, terutama ketika angin bergerak dari arah timur ke barat.

“Warga sekitar rumah saya jarang ada yang mau nongkrong di luar rumah saat siang. Malas. Udaranya saja sampai kelihatan campur dengan tolato,” ujar GT, Jumat (7/8).

Dia mengatakan, setiap memasuki musim giling, pemandangan rumah warga dengan pintu dan jendela tertutup sudah menjadi hal biasa. Warga terpaksa melakukan itu agar abu hitam tidak masuk dan mengotori bagian dalam rumah.

Menurut GT, celah kecil di bawah pintu maupun ventilasi rumah menjadi jalur masuknya debu ketika sebaran tolato terjadi.

“Kalau sudah musim giling, di bawah pintu rumah itu kan ada celah lubang. Kalau itu tidak ditutup, positif debu masuk ke dalam rumah,” tegasnya.

GT mengaku pernah mengalami sendiri dampak sebaran tolato ketika meninggalkan rumah selama beberapa hari. Saat itu, dia lupa menutup ventilasi sebelum bepergian ke luar kota.

Begitu kembali, kondisi rumahnya sudah dipenuhi debu hitam.

“Minggu lalu saya ke luar kota. Lupa tidak tutup ventilasi. Waduh, tolato di dalam rumah banyak sekali. Rumah saya sudah pakai atap. Kalau yang tidak pakai atap, tidak tahu lagi saya,” ungkapnya.

Keluhan warga tersebut muncul di tengah upaya PG Panji melakukan pengendalian sebaran abu hasil aktivitas produksi. Sebelumnya, Manager Teknik PG Panji Bahtiar Yudistira melalui H. Haritrianto menyampaikan bahwa pihak pabrik telah menggunakan teknologi water dust scrubber untuk menangkap karbon maupun abu ketel dari gas buang.

Teknologi tersebut disebut mampu menangkap sekitar 40 ton karbon atau abu ketel dalam waktu 24 jam. Pemeriksaan terhadap alat tersebut juga dilakukan setiap hari oleh tenaga mekanik ketel untuk memastikan fungsi berjalan optimal.

Namun, pihak PG Panji mengakui masih terdapat sebagian abu dari bak pengendap yang mengering dan terbawa angin hingga ke lingkungan sekitar pabrik.

“Kami tetap berupaya mengendalikan masalah dengan penyiraman air untuk pembasahan abu kering di emplasmen pabrik agar debu kering yang ada tidak menyebar ke warga,” ujar Hari sebelumnya.

Menurut dia, kondisi cuaca panas dan masuknya musim kemarau dalam beberapa pekan terakhir turut memengaruhi penyebaran abu kering.

PG Panji memastikan upaya pengendalian gas buang dan penyebaran debu akan terus dilakukan agar aktivitas produksi tidak mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. (hum/pri)

 

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
polusi udara tolato PG Panji Warga Mimbaan Abu ketel PG Panji