Kasus Keracunan MBG Sidoarjo Tak Hanya di Ponpes, 19 Lembaga Ikut Terdampak

Agung Sedana • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 11:06 WIB
MBG dengan menu Chicken Katsu.
Ilustrasi MBG dengan menu Chicken Katsu.

RADARSITUBONDO.ID - Dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, meluas ke 19 lembaga pendidikan. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut seluruh lembaga tersebut menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.

Emil mengatakan SPPG Kalitengah mendistribusikan sekitar 2.800 porsi MBG pada Selasa (1/9/2026). Dari distribusi tersebut, keluhan kesehatan dilaporkan tidak hanya muncul di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, tetapi juga pada penerima di sejumlah sekolah.

"Ada 19 lembaga yang terdampak. Ada 19 lembaga yang terdampak, salah satunya Ponpes Manba'ul Hikam," kata Emil, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: Richard Lee Pertanyakan Barang Bukti di Depan Hakim, Singgung Dugaan Barang Ditukar

Jumlah terdampak mencapai 512 orang

Perkembangan terbaru yang disampaikan Emil menunjukkan skala kejadian lebih luas daripada laporan awal yang hanya berfokus pada santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam.

Emil menyebut total orang yang mengalami keluhan dalam dugaan keracunan tersebut mencapai 512 orang dari 19 lembaga. Para korban berasal dari lembaga pendidikan yang menerima pasokan makanan dari SPPG Kalitengah.

Jenis lembaga yang terdampak mencakup SMA, SMP, SD, dan TK swasta. Emil mengatakan pada distribusi tersebut tidak terdapat sekolah negeri yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah.

"Ada SMA swasta, ada juga SMP, SD swasta juga ya. TK pun juga ada, tapi kebetulan enggak ada yang negeri, kebetulan swasta," ujarnya.

Pemerintah belum merinci seluruh nama 19 lembaga tersebut.

SPPG Kalitengah dihentikan sementara

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah setelah muncul laporan dugaan keracunan.

Penghentian dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi terhadap dapur penyedia makanan. Sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan kepolisian untuk diperiksa.

Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan hasil laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Setelah hasil dan evaluasi tersedia, BGN akan menentukan apakah penghentian operasional hanya sementara atau dilanjutkan secara permanen.

Emil menegaskan penghentian SPPG tersebut merupakan langkah sesuai prosedur, tetapi belum berarti penyebab keracunan sudah diketahui. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui sumber persoalan secara lebih pasti.

Kasus bermula dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam

Laporan dugaan keracunan pertama kali mencuat setelah ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, mengalami keluhan kesehatan pada Selasa (1/9/2026).

Mereka sebelumnya mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta apel.

Laporan awal menyebut ratusan santri harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Data yang berkembang kemudian menunjukkan keluhan serupa juga dialami penerima MBG di lembaga pendidikan lain yang mendapat pasokan dari SPPG Kalitengah.

Kesamaan sumber makanan menjadi salah satu dasar pemerintah melakukan penelusuran lebih luas terhadap penerima MBG dari dapur tersebut. Namun, penyebab pasti keluhan kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Pemerintah telusuri penerima MBG

Emil mengatakan penelusuran terhadap 19 lembaga relatif memungkinkan karena seluruh penerima merupakan siswa di satuan pendidikan.

Pemerintah daerah dan BGN akan mengecek kondisi siswa yang tidak masuk sekolah untuk memastikan apakah mereka mengalami keluhan kesehatan atau tidak.

"Semua penerimanya ini kebetulan di satuan pendidikan. Ya, jadi karena di satuan pendidikan, untuk menelusuri siapa saja yang menerima, dan kalau dia enggak masuk harus kita cek kondisinya ke kediaman," jelas Emil.

Langkah tersebut dilakukan karena pemerintah tidak ingin penanganan hanya berfokus pada korban yang sudah dibawa ke rumah sakit. Penerima MBG lain dari distribusi yang sama juga perlu ditelusuri.

Hingga Rabu (2/9/2026), pemerintah masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian. Karena itu, peristiwa tersebut masih tepat disebut sebagai dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG, bukan keracunan yang penyebabnya telah terbukti secara laboratoris.

Editor : Agung Sedana
Ponpes Manbaul Hikam keracunan MBG sidoarjo