Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Baca Selawat di Pantai, dan Kaji Kitab Kuning: Cara Alumni Pesantren Nurul Huda Hidupkan Malam Nisfu Syaban

Moh Humaidi Hidayatullah • Senin, 26 Februari 2024 | 13:30 WIB
RUTINAN: Alumni Santri Pondok Pesantren Nurul Huda, ngaji kitab kuning di pinggir pantai Dusun Selasaan, Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Minggu (25/2) dini hari.
RUTINAN: Alumni Santri Pondok Pesantren Nurul Huda, ngaji kitab kuning di pinggir pantai Dusun Selasaan, Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Minggu (25/2) dini hari.

RadarSitubondo.id - Belasan alumni Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo punya cara unik dalam merayakan malam Nisfu Syaban, Minggu (25/2) dini hari.

Mereka, tidak tidur di waktu malam sambil membaca selawat haji sebanyak 4444 kali di pinggir Pantai Selasaan, Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan.

Ustad Azizi, salah satu alumni PPNH mengatakan, kegiatan tersebut murni untuk mengharap berkah malam nisfu syaban.

Sebab, banyak penjelasan dari ulama yang mengatakan sangat banyak keutamaan di malam nisfu syaban.

“Kami dan teman-teman sengaja baca selawat haji yang diberikan Rasulullah pada guru kami almarhum Habib Alwi Adjufri. Kami baca bersama hingga mencapai 4444 kali,” kata Aziz.

Dia mengaku, sebelum pembacaan selawat, sejumlah alumni juga membaca kitab kuning Tanqihul Qoul. Kajian tersebut memang rutin dilakukan secara anjangsana di rumah-rumah alumni PPNH.

“Kalau kajian rutin kami ya baca kitab kuning tiap hari Sabtu dengan teman-teman alumni. Untuk malam nisfu syaban sengaja ngaji kitab dan baca selawat,” ujar Azizi.

Kegiatan tersebut sengaja diadakan di pinggir pantai agar suasananya tidak tertutup. Dengan begitu jamaah yang ikut bisa tidak tidur sambil wiritan.

“Agar tidak ngantuk ya kadang istirahat sambil ngopi, habis itu ya lanjut selawat hingga mencapai target. Yang diharapkan hanya berkah dari bulan syaban, dengan berkah bisa tambah rajin ibadah, rejeki lancar dan berharap mati khusnul khotimah,” tegaz Aziz.

Sementara itu, Ustad Hafid mengatakan,  tradisi pergi ke pantai pada malam nisfu syaban mulai punah. Tidak seperti sepuluh tahun yang silam.

Saat ini hanya ada beberapa warga yang pergi ke pantai untuk membaca wiridan di pinggir pantai.

“Dulu saat saya masih mondok, di pantai ini banyak santri yang datang. Warga juga banyak. Sekarang sudah jarang,” pungkas Hafid. (pri)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#situbondo #nisfu syaban #kitab kuning