Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Sejarah Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi, Didirikan Tokoh Asal Plosoklaten Kediri, Kini Miliki Ribuan Santri

Ali Sodiqin • Selasa, 26 Maret 2024 | 17:40 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (tengah) foto bersama keluarga besar Ponpes Darussalam Blokagung.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (tengah) foto bersama keluarga besar Ponpes Darussalam Blokagung.

RadarBanyuwangi.id – Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi tidak asing lagi di telinga masyarakat Bumi Blambangan.

Sebab, ponpes yang berdiri pada 15 Januari 1951 ini merupakan satu-satunya yang terbesar di Banyuwangi.

Jumlah santrinya ribuan orang dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Tokoh utama pendiri pesantren ini adalah Almarhum KH Mukhtar Syafaat, asal Desa Plosoklaten, Kabupaten Kediri.

Dia dibantu oleh dua ulama yaitu almarhum Kiai M. Muhiyidin dan KH Mualim Syarqowi.

Kemegahan ponpes sekarang ini rasanya memang sulit dipercaya.

Sebab melihat letak geografisnya, lokasi pesantren ini cukup jauh dari perkotaan.

Jaraknya kurang lebih 12 Kilometer dari Kecamatan Genteng dan sekitar 5 kilometer Jajag, ibukota Kecamatan Gambiran.

Menilik lokasi geografis tersebut, secara rasional ponpes itu sepertinya sulit berkembang.

Namun berkat kegigihan Mukhtar Syafaat muda dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat, lelaki lulusan Pesantren Tebuireng Jombang itu berhasil menjadikan ponpes Darussalam menjadi ikon pesantren terbesar di Banyuwangi.

Awalnya, Mukhtar Syafaat muda kala itu baru tamat mencari ilmu di Pasantren Tebuireng, Jombang.

Dia melanjutkan belajarnya ke sebuah pesantren asuhan almarhum KH. Dimyatie Ibrahim (Ayah KH. Ishomudin Glenmore) di Dusun Jalen, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Dia menempuh ilmu di pesantren milik kakek Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Nur Iskandar itu sekitar 23 tahun.

Pada tahun 1949, Mukhtar Syafaat menikah dengan Nyai Maryam putri Karto Diwiryo dari Desa Margo Katon, Sayegan, Kabupaten Sleman, Jogjarkata.

Waktu itu, dia pindah di Dusun Blokagung Desa Karangdoro, Tegalsari.

Setelah 6 bulan di tinggal daerah baru, para teman Mukhtar Syafaat yang mencari ilmu di pesantren Jalen, ternyata ikut menyusul.

Mereka berdatangan ke rumah Mukhtar Syafaat di Blokagung, Kecamatan Tegalsari.

Pada tanggal 15 Januari 1951, secara bersama-sama mereka mendirikan musala kecil dari bambu dan beratap ilalang.

Musala itu diberi nama Darussalam, dengan harapan semoga akhirnya menjadi tempat pendidikan masyarakat sampai akhir zaman.

Awalnya, berdirinya musala Darussalam ini hanya untuk kegiatan mengaji dan tidur para santri dan kiainya.

Dalam perkembangannya, semakin banyak masyarakat yang mengaji di musala Darussalam. Sehingga akhirnya, kapasitas musala tersebut tidak memenuhi lagi.

Sebagai solusinya, Mukhtar Syafaat bersama santri dan warga sekitar membangun asrama di sekitar musala.

Lambat laun seiring banyaknya jumlah santri, pembangunan juga terus dilakukan.

Bahkan, pendidikan formal seperti Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang berafiliasi dengan Departeman Agama juga didirikan KH Mukhtar Syafaat.

Sampai akhirnya, ketika dia wafat dalam usia 72 tahun pada pukul 02.00 hari Jumat malam Sabtu tanggal 17 Rojab 1411Hijriah atau tanggal  2 Februari 1991, pesantren itu memiliki puluhan lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal.

Perkembangan PP. Darussalam Blokagung, juga semakin pesat ketika pesantren ini kemudian diasuh oleh putra pertama KH. Muhktar Syafaat, yaitu KH. Ahmad Hisyam Syafaat, S Sos yang pernah menjabat Rois Syuriah PCNU Banyuwangi.

Dibantu semua keluarga, suadara, para alumni serta masyarakat, pada tahun 2001 Ponpes Darussalam mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (Staida).

STAIDA kemudian berubah menjadi IAI Darusslam. Dan, pada Januari 2024 lalu, IAIDA resmi bertranformasi menjadi UIMSYA atau Universitas KH Mukhtar Syafaat.

Beberap jurusan yang dibuka di UIMSYA antara lain: Tarbiyah (Program Managemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam), Dakwah (Program Komunikasi Penyiaran Islam), Bahasa Program Sastra Inggris, Ekonomi, PGSD/MI dan Akta IV.

Mulai tahun 2007 lalu, Ponpes Darussalam juga membuka pendidikan Strata dua (S2) dengan jurusan Magister Hukum (MH), Magister Hukum Islam (MHI), Magister Pendidikan Islam (MPdI). (*)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi #kediri #pondok pesantren #Darussalam #sejarah #blokagung #KH Mukhtar Syafaat