RadarSitubondo.id – Tidak semua peninggalan penjajah yang memiliki nilai sejarah tinggi di Situbondo tidak terawat dengan baik.
Ada beberapa di antaranya, yang masih terawat baik dan berdiri kokoh. Bahkan, bangunan-bangunan itu masih dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Salah satu peninggalan penjajahan Belanda yang keberadaannya masih dimanfaatkan di Kota Santri adalah menara air di kompleks Alun-alun Situbondo.
Kini bangunan kokoh yang tingginya lebih dari 20 meter itu digunakan sebagai sumur bor PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Situbondo.
‘Sumur Bor Kartini PDAM Situbondo’, begitu tulisan yang terpampang di papan putih yang menggelantung di atas pintu masuk.
Tak jauh dari tulisan itu, ada sebuah batu marmer dengan tulisan-tulisan bahasa Belanda. Bisa dipastikan hanya orang-orang tertentu yang tahu dan mengerti maksud tulisan tersebut.
Satu-satunya tulisan yang menandakan kalau bangunan tersebut digunakan untuk menara air minum pada masa penjajahan Belanda, karena di batu marmer ada kata ‘HET REGENTSHADS- DRINKWATERLEIDINGBEDRUF’.
Di situ tertera nama-nama pejabat pemerintahan Belanda dari Bandung maupun Surabaya yang ikut meresmikan.
Demikian pula, pejabat Situbondo juga tertera di dinding gedung bagunan yang tak jauh dari pendapa Bupati Situbondo tersebut.
Tertulis di batu marmer bahwa bangunan itu dibangun pada tahun 1936.
Menara air di Jalan Kartini Situbondo ini merupakan salah satu bangunan peninggalan pemerintahan Belanda.
Dulu, menara itu digunakan untuk menyuplai kebutuhan air minum di wilayah kota Situbondo. Saat ini, menara air itu masih berfungsi dengan baik.
Selain menara air, salah satu bangunan Belanda yang masih berdiri kuat dan dimanfaatkan adalah Dam Sluice.
Di mata masyarakat Situbondo, bangunan itu lebih dikenal dengan nama dam pintu lima.
Ini mengacu kepada jumlah pintu air di dam tersebut, yang berjumlah lima buah. Pintu tersebut merupakan jalan pembuka untuk aliran-aliran air ke daerah-daerah tertentu.
Keberadaan Dam Sluice merupakan salah satu bukti adanya upaya eksploitasi alam Situbondo, yang dilakukan penjajah Belanda.
Tanah Situbondo dinilai cocok untuk tanaman tebu. Sayang, saat itu tidak didukung persediaan air yang memadai.
Akhirnya untuk keperluan tersebut, pemerintah Belanda membangun Dam Sluice. Itu juga diikuti pembangunan aliran irigasi Sampean.
Semua itu digunakan untuk mengairi area lahan pertanian pemerintah Belanda. Hasilnya, tentu saja pemerintah Belanda yang menikmatinya.
Hingga saat ini, Dam Sluice masih dimanfaatkan sebagaimana dulu dimanfataatkan pemerintah Belanda.
Tanah Situbondo yang merupakan ‘surga’ bagi tanaman tebu memang bukan hanya isapan jempol.
Setidaknya, itu bisa dibuktikan dengan banyaknya pabrik gula (PG) yang didirikan pemerintah Belanda di Kota Santri. Di wilayah barat, ada PG Demas.
Di wilayah tengah saja ada empat PG, yakni PG Pandjie, Wringinanom, Olean, dan Mangaran.
Mungkin juga bisa dihitung PG Prajekan, Bondowoso mengingat letaknya yang tak jauh dari Situbondo. Di wilayah timur, ada PG Asembagus. Namun kini tinggal beberapa PG yang eksis, yakni PG Asembagus, Olean, dan Pandjie.
Konon, karena barometer kesuburan tanaman tebu inilah yang menyebabkan nama Situbondo akhirnya mengalahkan nama Besuki, yang juga sempat menjadi nama kabupaten.
Akhirnya, hingga saat ini nama Situbondo dipakai sebagai nama kabupaten.
Karena di wilayah tengah ke timur (Situbondo-Asembagus), tanaman tebu lebih tumbuh subur. Akhirnya perkembangan Besuki terkalahkan. (*)
Editor : Ali Sodiqin