RadarSitubondo.id - Malam satu suro merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat.
Satu suro dianggap sebagai malam yang sakral. Menurut kepercayaan Jawa kuno, malam satu suro tidak boleh dilewatkan.
Satu Suro sendiri merupakan 1 Muharram atau tahun baru Islam. Artinya dimulainya bulan baru dalam hitungan kalender hijriyah.
Bagi umat muslim sendiri, menyambut malam satu suro mempunyai makna yang sangat penting.
Dilansir dari artikel UIN Malang, di bulan Muharram disebut sebagai kebangkitan.
Hal ini karena di awal tahun baru Islam sebagai momentum kebangkitan untuk terus berbuat baik.
Jadi tidak heran, setiap memperingati tahun baru hijriah, umat Islam menyelenggarakan berbagai kegiatan Islami yang bermanfaat.
Namun, ada pula masyarakat yang mengaitkan satu suro dengan mitos, hal itu berdasarkan tradisi Jawa kuno.
Banyak kepercayaan bersifat mitos dan dianggap tidak rasional. Misalnya, pada malam 1 suro orang beramai-ramai mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sakral dan keramat.
Kemudian, ada yang datang ke makam lalu membakar kemenyan dengan tujuan minta kekayaan, banyak rezeki, dipermudah jodoh hingga urusan duniawi lainnya.
Tidak hanya itu, juga ditemukan orang yang datang ke laut dengan melemparkan makanan atau kepala kerbau yang dianggap sebagai sedekah laut.
Selain itu masih banyak di mitos lain contohnya, membersihkan benda-benda pusaka dan lain sebagainya. (*)
Editor : Ali Sodiqin