RadarSitubondo.id – Masyarakat Situbondo dan Jawa Timur patut berbangga. Sebab, salah satu putra terbaiknya telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.
Putra terbaik Kota Santri adalah KHR As’ad Samsul Arifin. Pengasuh kedua Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo itu mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2016 oleh Presiden Joko Widodo.
Siapa sebenarnya Kiai As’ad? Bagaimana sepak terjangnya hingga meraih gelar pahlawan?
Kiai As’ad adalah putra KHR Syamsul Arifin. Kiai As’ad lahir tahun 1897 di Kota Mekkah, Saudi Arabia.
Kiai As'ad adalah anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim (Syamsul Arifin) dan Siti Maimunah, yang berasal dari Pamekasan, Madura.
Memiliki garis keturunan dari Sunan Kudus (ayah) dan Sunan Ampel (ibu). Sejak kecil, Kiai As'ad mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya. Dia belajar di Pondok Pesantren Kembang Kuning di Pamekasan.
Kemudian, melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Banyuanyar, lalu ke Mekah untuk menuntut ilmu di Madrasah Al-Shaulatiyah.
Kiai As'ad salah satu tokoh yang berperan penting dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU), dengan menyampaikan pesan dari Syaikhona Kholil kepada KH. Hasyim Asy'ari. Bahkan, ayahanda Alm. KHR Fawaid As’ad itu pernah menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar NU.
Di bidang pendidikan, Kiai As'ad Samsul Arifin juga dikenang sebagai salah satu ulama besar yang berkontribusi signifikan dalam pengembangan pendidikan Islam dan organisasi keagamaan di Indonesia.
Terbukti selama di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo berkembang pesat. Kiai As’ad mendirikan berbagai lembaga pendidikan seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, hingga perguruan tinggi.
Selama masa penjajahan, Kiai As'ad Samsul Arifin adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah. Khususnya dalam melawan penjajahan Jepang. Dengan latar belakang sebagai ulama dan pemimpin pesantren, Kiai As'ad memainkan peran strategis dalam mengorganisir perlawanan terhadap penjajah.
Pada masa pendudukan Jepang, Kiai As'ad bersama sepupunya, KH Abdus Shomad, mendapatkan pendidikan militer di Jember. Pengetahuan ini menjadi bekal penting dalam pergerakan melawan penjajah.
Kiai As'ad juga terlibat aktif dalam beberapa laskar perjuangan, seperti Laskar Sabilillah, Hizbullah, dan Barisan Pelopor. Organisasi ini menjadi wadah bagi para kiai, santri, dan masyarakat untuk bersatu melawan penjajah di wilayah Jawa Timur.
Kiai As'ad selalu menekankan pentingnya niat dalam perjuangan. Ia terlibat langsung dalam berbagai aksi untuk mengusir Jepang dari Jawa Timur, dengan markas utama di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum di Sumberwringin, Sukowono, Jember.
Salah satu aksi heroik Kiai As'ad adalah melakukan serangan gerilya di Garahan, Kecamatan Silo, Jember. Meskipun rencana ini diketahui oleh pasukan Jepang, Kiai As'ad dan pasukannya tetap melanjutkan perjuangan.
Dalam pertempuran yang terjadi, meskipun Jepang mengerahkan pasukan, mereka mengalami kekalahan dan terpaksa melarikan diri ke dalam hutan. Kiai As'ad berhasil merebut kembali Garahan tanpa perlawanan berarti.
Kiai As'ad tidak hanya dikenang sebagai pejuang, tetapi juga sebagai pendidik yang menginspirasi banyak generasi muda untuk terus berjuang demi kebaikan dan kemajuan bangsa.
Perjuangan Kiai As'ad Samsul Arifin melawan penjajah adalah contoh nyata dari semangat juang yang tak kenal lelah.
Dengan latar belakang sebagai ulama dan pemimpin masyarakat, ia berhasil menggerakkan banyak orang untuk bersatu melawan penindasan. Warisan perjuangannya akan selalu dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan.
Kiai As’ad wafat di Sukorejo Situbondo pada tanggal 4 Agustus 1990. Makamnya berada di belakang Masjid Ibrahimy dan selalu dikunjungi oleh ribuan jemaah setiap harinya. (*)
Editor : Ali Sodiqin