- Kisah ini disampaikan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy di Jembrana, Bali, pada 2 Desember 2018.
RadarSitubondo.id – KHR As'ad Syamsul Arifin atau lebih dikenal dengan Kiai As'ad adalah sosok fenomenal. Pengasuh kedua Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo ini mampu melintasi lorong dan waktu.
Beliau sudah wafat pada tahun 1990. Makamnya berada di Sukorejo, Banyuputih, Situbondo. Namun, Kiai As'ad justru muncul di Jogjakarta tahun 2011. Begini kisahnya:
Pada tahun 2011, seorang perempuan non-Muslim di Yogyakarta didatangi oleh seorang laki-laki tua berpakaian putih dan memakai songkok putih. Pada kesempatan itu, pria tersebut bertanya kepada wanita tersebut.
“Jika Anda menginginkan ketenangan dan kedamaian, pergilah ke tempat-tempat ibadah tersebut. Namun pada akhirnya, Anda akan menemukan itu semua setelah Anda menemukan Baiturrahmah. Dan Anda akan bertemu dengan seorang pemuda yang baru saja kembali dari tanah Arab sebulan yang lalu.”
Pada tahun itu juga, wanita ini kembali ke pulau asalnya, Bali. Sepanjang perjalanan, wanita ini bertanya-tanya apa arti dari kejadian tersebut. Hingga ia sampai di kampung halamannya di Bali.
Ia kemudian menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah tetangganya, yang kebetulan merupakan lulusan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Ketika ia memasuki rumah tetangganya, ia menemukan sebuah foto seorang kiai sepuh. Kemudian dia bertanya kepada tetanggannya tersebut.
“Siapa orang yang ada di foto ini?”.
“Dia adalah guru saya, Kiai Asad Syamsul Arifin,” jawabnya.
Wanita itu terkejut: “Loh, orang ini yang ada dalam kejadian waktu itu.”
Ia kemudian menceritakan pengalamannya. Sang alumni bingung dan berkata.
“Kiai As’ad ini wafat pada tahun 1990, masa bertemu sampean di tahun 2011?”. Sanggah si alumni ini sambil terheran-heran mendengar cerita dari tetangganya itu.
Akhirnya, perempuan itu memutuskan untuk mengajak tetangganya berziarah ke makam Kiai As'ad.
Alumni dan perempuan itu pergi ke Sukorejo. Singkat cerita, sang alumni membawa wanita tersebut ke makam Kiai Asad. Tak disangka-sangka, wanita non-muslim ini terlihat menangis sambil berdoa.
“Sampean berdoa apa? Dan kenapa menangis?”
“Saya tidak tahu juga, pokoknya ingin berdoa dan menangis” jawabnya.
Setelah keluar dari Asta, wanita ini melihat masjid Jamik Ibrahimy kemudian berkata,
“Loh, ini kan Baiturrahmah itu. Ini Baiturrahmah yang ditunjukkan oleh orang sepuh sewaktu saya di Yogyakarta,” katanya.
Alumni ini pun semakin bingung dan penasaran. Wanita ini kemudian bertanya kepada salah satu masyarakat di Sukorejo
“Siapa pemuda yang baru satu bulan pulang dari tanah Arab?”
Lalu, wanita itu mendapatkan jawaban, bahwa pemuda yang dimaksud oleh Kiai Sepuh itu adalah KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu Kiai As’ad.
Setelah itu ia langsung bergegas untuk menemui Kiai Azaim. Wanita non muslim ini kemudian bercerita panjang lebar mengenai apa yang pernah ia alami di Yogyakarta.
Pada akhirnya wanita ini memutuskan untuk memeluk agama Islam di bawah bimbingan syahadat Kiai Azaim. (*)
Editor : Ali Sodiqin