RADAR SITUBONDO – Tari sufi atau tar sama’ marupakan tarian berputar yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sebagai bentuk kebaikan bersama.
Tari sufi, terutama yang dikenal dengan nama semâ, memiliki banyak aspek yang sangat mendalam dan kaya makna, baik dari segi spiritual, filosofis, maupun estetis.
Setiap elemen dalam tarian ini bukan hanya gerakan, tetapi juga simbol yang mengandung ajaran dan nilai-nilai tasawuf (mistisisme Islam). Berikut adalah beberapa aspek utama yang ada dalam tari Sufi:
- Aspek Spiritual
- Pencarian Tuhan: Tari Sufi adalah bentuk pencarian spiritual yang mendalam. Gerakan berputar adalah simbol dari perjalanan jiwa menuju Tuhan. Dengan berputar, para sufi berusaha "menyerahkan diri" sepenuhnya kepada Tuhan, menanggalkan ego dan semua keterikatan duniawi.
- Penyatuan dengan Tuhan: Dalam tari Sufi, penari berputar dengan tujuan menyatu dengan Tuhan. Dalam proses ini, mereka berharap dapat merasakan kehadiran Tuhan secara langsung, tanpa gangguan pikiran atau emosi duniawi. Putaran itu dianggap sebagai representasi dari proses transendensi spiritual.
- Peningkatan Kesadaran: Tarian ini berfungsi sebagai bentuk meditasi fisik. Dengan terus berputar, para penari memasuki kondisi trance atau keadaan kesadaran yang lebih tinggi. Mereka melepaskan keterikatan fisik dan mental, sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Aspek Filosofis
- Pusat (God/Allah) dan Keberlanjutan Gerakan: Gerakan berputar dalam tari Sufi memiliki makna simbolis yang mendalam. Para penari berputar mengarah ke satu titik pusat, yang melambangkan Tuhan. Gerakan berputar ini melambangkan perjalanan jiwa yang selalu berputar untuk kembali ke asalnya, yaitu Tuhan. Tiap putaran adalah refleksi dari kehidupan itu sendiri: perjalanan yang terus berulang untuk kembali ke sumber, meskipun banyak gangguan dan hambatan di sepanjang jalan.
- Tafakkur (Refleksi Diri): Tari Sufi mengajarkan pentingnya introspeksi dan perenungan (tafakkur). Gerakan berputar memungkinkan para penari untuk merenungkan kehidupan mereka dan memperdalam pemahaman spiritual. Tanpa kata-kata, gerakan ini menjadi cara untuk memperbaharui hubungan spiritual dengan Tuhan.
- Pelepasan Ego: Salah satu prinsip utama dalam tasawuf adalah pengosongan diri dari ego dan keinginan duniawi. Dalam tari Sufi, hal ini tercermin dari upaya untuk melepaskan semua rasa "aku" dan membiarkan diri berputar dalam kehendak Tuhan, tanpa ada kontrol dari ego pribadi.
- Aspek Estetis dan Simbolik
- Gerakan Berputar (Whirling): Gerakan berputar adalah inti dari tari Sufi. Gerakan ini menggambarkan semangat dan keharmonisan semesta, dengan makna bahwa alam semesta ini berputar mengelilingi Tuhan, dan kita sebagai makhluk ciptaan juga berputar menuju-Nya. Dalam tari, gerakan ini melambangkan pemisahan diri dari dunia materi dan memasuki dimensi spiritual.
- Kostum dan Pakaian: Para penari Sufi mengenakan pakaian khusus yang terdiri dari jubah putih (melambangkan kesucian) dan topi berbentuk kerucut yang disebut sikke. Sikke ini melambangkan kuburan (makam), sebagai simbol kematian ego dan kelahiran kembali ke dalam kesucian dan kedekatan dengan Tuhan.
- Ritme dan Musik: Musik yang mengiringi tari Sufi, seperti alat musik ney (seruling), bendir (drum), atau oud (gitar Timur Tengah), berfungsi untuk menambah dimensi spiritual dalam tarian. Musik ini memiliki pola berulang yang mendalam, menciptakan kondisi yang memungkinkan penari memasuki keadaan trance atau kesadaran yang lebih dalam. Ritme musik ini juga sering menciptakan sensasi gerakan yang serupa dengan putaran yang tak berujung.
- Aspek Sosial dan Religius
- Ibadah dan Doa Tanpa Kata: Tari Sufi bukan hanya sekadar seni, tetapi juga merupakan bentuk ibadah. Para sufi melakukannya sebagai cara untuk berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan, tanpa harus mengucapkan kata-kata. Setiap gerakan adalah doa, setiap putaran adalah wujud dari pengabdian dan rasa syukur.
- Pembebasan Jiwa: Dalam tradisi Sufi, tari ini juga bertujuan untuk membebaskan jiwa dari segala keterikatan duniawi, memberi ruang bagi penari untuk mengalami kebebasan spiritual dan pencerahan. Ini adalah proses pembebasan dari belenggu duniawi dan pencapaian kedamaian sejati.
- Kehidupan Berkelompok: Tari Sufi biasanya dilakukan dalam konteks kelompok, di mana para penari saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dalam pencarian spiritual mereka. Keberadaan kelompok ini menciptakan rasa kebersamaan dalam pencarian spiritual dan menunjukkan bahwa pencarian Tuhan itu adalah perjalanan kolektif.
- Aspek Psikologis
- Penyembuhan Jiwa: Selain sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tari Sufi juga dianggap memiliki efek penyembuhan. Gerakan berputar membantu meredakan ketegangan dan kecemasan, memberikan rasa damai dan ketenangan dalam jiwa. Banyak yang merasa bahwa tari ini mampu membawa mereka ke kondisi mental yang lebih seimbang dan sehat.
- Keterhubungan dengan Alam: Salah satu tujuan dari tari Sufi adalah untuk mengingatkan penari akan keterhubungannya dengan alam semesta. Dalam proses berputar, para penari merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah keharmonisan yang lebih besar. Keseimbangan antara gerakan tubuh dan ritme musik menciptakan rasa kesatuan antara tubuh, jiwa, dan alam semesta.
Kesimpulannya
Tari Sufi adalah ekspresi spiritual yang sangat kaya dan multi-dimensional. Melalui gerakan berputar, musik, dan simbolisme pakaian, tari ini mengandung ajaran tasawuf yang mendalam—tentang pencarian Tuhan, pengingkaran ego, dan kesatuan dengan alam semesta. Ini bukan hanya tari sebagai seni, tetapi juga sebagai bentuk meditasi dan ibadah yang membawa penari pada kedekatan dengan Tuhan, sekaligus penyembuhan dan pembebasan jiwa. (*)
- Penulis: (MUHAMMAD AHSANUL FAIZ)
- Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo