RADAR SITUBONDO - “Orang yang beradab sudah pasti berilmu, Orang yang berilmu belum tentu beradab.”
Kalimat tersebut banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat. Berdekatannya antara beradab dengan berilmu membuat kalangan masyarakat bingung. Manakah yang harus didahulukan?
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berikhtiar menuntut ilmu di sepanjang hayat. Dalam Al-Quran, Allah swt berkali-kali menurut manusia agar mendayagunakan potensi akal pikiran semaksimalkan mungkin. Dengan demikian, mereka patut mencapai taraf orang-orang yang berilmu.
Memiliki ilmu merupakan anugerah yang dikasih Tuhan kepada makhluk yang paling sempurna, yaitu manusia. Orang yang diberikan ilmu akan diangkat derajatnya oleh Tuhan Yang Maha Esa, sangat istimewa bukan?
Orang yang berilmu akan banyak dimiliki oleh banyak teman. Baik untuk bertukar pikiran, maupun dapat banyak belajar darinya. Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh diabaikan dalam berilmu, yaitu beradab.
Mengapa harus mendahulukan adab? Karena dengan kita mempelajari atau memiliki adab akan mudah untuk memahami ilmu. Selain itu, banyak di kehidupan nyata yang memperlihatkan bahwa adab itu penting: banyak orang yang kita jumpai baik teman atau seseorang yang memiliki kecerdasan, tetapi mempunyai sifat yang sombong.
Memiliki kecerdasan tetapi tidak memiliki pribadi atau perilaku yang baik. Memiliki kepandaian tetapi adab terhadap orang tua maupun guru kurang.
Kondisi di Indonesia banyak sekali hal-hal tersebut yang kita jumpai, berita atau informasi atau bahkan kejadian yang pernah kita lihat secara langsung. Yaitu banyak kasus murid yang tidak memiliki sopan santun terhadap gurunya, atau dikarenakan terlahir dari orang tua yang memiliki jabatan tinggi sehingga sesuka hati memperlakukan guru.
Dari kejadian tersebut maka kita akan cenderung mendahulukan orang yang memiliki adab karena akan memunculkan kenyamanan jika bersamanya. Tetapi tentu, dua pilihan antara berilmu dan beradab bukanlah pilihan yang terbaik.
Karena akan jauh lebih baik bagi kita untuk menjadi orang berilmu dan beradab. Tetapi untuk memiliki ilmu butuh adab. Pada dasarnya, sifat yang kita miliki seperti: sabar dalam menuntut ilmu, dipelajari dari adab terlebih dahulu.
Apakah ilmu berkaitan dengan adab?
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (1372-1449) mendefinisikan adab adalah mengambil kemuliaan akhlak. Jadi ada banyak karakter mulia. Namun ketika karakter itu diambil perilaku itulah adab.
Pemahaman tentang adab menjadi luas ketika dibagi menjadi dua. Adab itu ada yang tabii atau secara tabiat. Artinya memang Allah menciptakan itu pada diri manusia baik, misalnya cara berbicara maupun cara bersikap. Kemudian ada adab yang merupakan hasil sebuah proses. Misalnya cara berinteraksi dengan orang yang punya kemuliaan dan punya ilmu, lalu kebaikan itu menjadi berpengaruh kepada perilakunya.
Sering dikatakan bahwa adab mendahului ilmu?
Keilmuan terjadi akan tetapi ketika seseorang mengambil adab, sebenarnya sudah termasuk bagian dari ilmu itu sendiri.
Imam Malik bin Anas umpamanya ketika menasihati seseorang pemuda dari Quraish, ia berkata: “belajarlah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir AS, ketika Nabi Khidir mengajarkan akhlak tentang adab. Nabi Musa AS ditanya siapakah orang yang paling alim di dunia saat ini ? Nabi Musa AS kemudian menjawab, tidak ada yang lebih alim selain saya. (*)
- Penulis: AHMAD IHYA
- Mahasiswa Universitas Ibrahimy Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Sukorejo Situbondo