Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kisah Perdebatan Imam Al-Ghazali dengan Nabi Musa AS

Redaksi • Rabu, 13 November 2024 - 19:00 WIB
ILUSTRASI. (Thumbnail YouTube/Santri Kyai Channel)
ILUSTRASI. (Thumbnail YouTube/Santri Kyai Channel)

RADAR SITUBONDO - Dalam dunia spiritualitas segala sesuatu bisa terjadi. Seperti halnya kisah spiritualitas tinggi Imam Al-Ghazali yang berdebat dengan Nabi Musa AS yang difasilitasi oleh Nabi Muhammad SAW.

Ar-Raghib al-Ishfihani dalam kitab “Al-Muhadharat” berkata bahwa suatu waktu Imam Abul Hasan Asy-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah dan pemilik Hizib Bahar, menuturkan sebuah kisah yang diperolehnya melalui sebuah mimpi.

Yakni kisah tentang perjumpaan Imam Al-Ghazali dengan para nabi yang difasilitasi oleh Nabi Muhammad SAW:

Suatu waktu saya sedang beristirahat di teras Masjid al-Aqsha. Aku tertidur dan mimpi melihat sebuah ranjang yang tengah disiapkan di halaman Masjid. Kemudian terlihat berduyun-duyun manusia berdatangan memasuki ruangan dengan riang gembira. Aku bertanya kepada mereka, “rombongan apa ini?”.

Mereka menjawab, “Kami rombongan para nabi dan rasul. Datang kemari untuk meminta syafaat bagi al-Hallaj kepada Nabi Muhammad saw atas perlakuan buruk yang dialaminya,” jawab mereka.

Lalu saat aku kembali melihat ranjang, aku melihat Nabi Muhammad saw sedang duduk di atasnya. Sementara para nabi dan rasul lainnya duduk di tanah. Di antara mereka adalah Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Nuh as. Lalu aku bangun untuk menyaksikan dan mendengarkan pembicaraan mereka.

Nabi Musa terlihat berdiri dan memulai pembicaraan dengan Nabi Muhammad saw. Nabi Musa as berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Dalam sabdamu engkau berkata, ‘Ulama umatku seperti nabi-nabi bani Israil’, tolong tunjukkan kepadaku salah satu di antara mereka. Lalu Nabi Muhammad saw menjawab, “Ini orangnya!” sembari beliau menunjuk Imam al-Ghazali.

Nabi Musa lngsung menanyainya, “siapa namamu?

“Namaku Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali”. Jawab Imam Ghozali.

Nabi Musa menimpalinya, “Saya tidak menanyakan nama bapak dan datukmu. Saya hanya bertanya namamu!”

Lalu Imam Ghozali meminta izin untuk menjawab perkataan-perkataan Nabi Musa As. Dan Rosulullah Saw. Pun mengizinkannya. Dan Imam Ghozali langsung berkata Nabi Musa As.

“Jika aku memang bersalah kepadamu, aku minta maaf. Akan tetapi Nabi Musa, engkau telah bersalah kepada Allah Swt dan kamu tidak minta maaf”.

Nabi Musa terkejut dan berkata, “Apa salahku kepada Allah SWT. ?”

Imam Ghozali menjawab, “Bukankah Allah pernah bertanya kepadamu, “dan apa (benda) yang ada di tangan kananmu itu wahai musa.”(QS. Thoha:17)

Seharusnya kamu cukup menjawab, di tangan kananku adalah tongkat, tapi kamu malah menjawab panjang lebar dengan berkata kepada Allah.

“Ini adalah tongkatku, aku bertekan atasnya semasa berjalan dan aku memukul dengannya daun-daun kayu supaya gugur kepada kambing-kaambingku dan ada lagi yang lain-lain keperluanku pada tongkatku.” ”(QS. Thoha:18).

Lalu Nabi Musa berkata, “Allah itu adalah kekasih kita, maka aku mengambil peluang itu untuk bercakap panjang lebar dengannya.”

Imam Ghozali langsung menimpali begitu pula aku. Engkau adalah kekasihku, maka aku juga mengambil kesempatan untuk bercakap panjang lebar denganmu wahai Nabi Musa.”

Apa yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali yang terinspirasi oleh Nabi Musa ini dimaknai oleh Sebagian ulama bahwa jawaban yang panjang atas pertanyaan singkat dari penanya ini sebagai taktik agar bisa berlama-lama dengan sang penanya.

Sebab, dalam konteks Nabi Musa, sang penanya adalah Allah Swt, yang di mana Nabi Musa ingin bercengkrama lebih lama. Sedangkan Imam al-Ghazali ingin berlama-lama dengan Nabi Musa AS. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#debat #Imam Al Ghazali #spiritual #kisah #nabi musa #nabi muhammad saw