radarsitubondo.id - Rumah kecil berdinding kayu yang berdiri kokoh sejak 17 Februari tahun 1978 ini merupakan saksi bisu dari perubahan zaman di pesisir Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Terletak sebelah timur tak jauh dari Dermaga Rakyat Pantai Ketapang Banyuputih, rumah ini memancarkan nuansa khas hunian pesisir yang sederhana namun penuh makna.
Struktur rumah masih mempertahankan bentuk aslinya dengan atap genteng tanah liat berwarna merah yang telah menua dimakan waktu, namun tetap memberikan perlindungan dari terik matahari dan hujan.
Dinding kayu yang kini mulai mengelupas catnya memperlihatkan lapisan warna yang menandakan banyaknya kali renovasi kecil yang pernah dilakukan, menambah kesan historis dan sentimental pada rumah ini.
Di bagian depan terlihat beberapa perabot sederhana dan jemuran yang menggambarkan aktivitas keseharian pemilik rumah.
Pagar bambu dan kayu tidak hanya berfungsi sebagai pembatas, namun juga mencerminkan ciri khas arsitektur lokal yang memanfaatkan bahan-bahan alam sekitar.
Meski secara fisik tampak sederhana dan mulai menua, rumah ini menyimpan nilai budaya dan sejarah yang tinggi.
Ia merepresentasikan gaya hidup masyarakat pesisir yang bersahaja, mandiri, dan erat dengan alam.
Lokasinya jika dipantau dari peta hari ini, sejatinya tak jauh dari kawasan wisata Pantai Sijile dan Pantai Bilik di dalam kawasan Taman Nasional Baluran Situbondo.
Tempat ini juga dulu pernah menjadi pintu masuk melalui jalur laut menuju perkampungan pesisir Merak di TN Baluran.
Banyak perahu nelayan yang bersandar di pesisir tersebut yang bisa disewa untuk perjalanan menuju kampung Merak lewat jalur laut.
Selain ini, kawasan ini diprediksi akan dekat dengan proyek jalan tol Probolinggo – Banyuwangi (Tol Probowangi) ketika proyek tersebut sudah mengarah ke wilayah Baluran dan Bajulmati Wongsorejo Banyuwangi, beberapa tahun ke depan.
Rumah ini adalah simbol keteguhan dan kehangatan, tempat di mana banyak kenangan keluarga tercipta selama hampir setengah abad.
Keberadaannya di tengah perkembangan zaman yang kian modern menjadikan rumah ini sebagai pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan arsitektur lokal.
Rumah kayu bertuliskan ‘’R. Nur’’ 17. 2 . 1978 dengan hiasan ornament kuda di pesisir Banyuputih ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga warisan kehidupan yang patut dihargai dan dilestarikan. (*)
Editor : Bayu Saksono