Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Mengenal Asem Jawa yang Banyak di Temui di Pinggiran Jalan Raya Pulau Jawa

Bayu Shaputra • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 21:00 WIB
Tamarindus indica atau asam jawa yang banyak di temui di pinggir-pinggir jalan Pulau Jawa.
Tamarindus indica atau asam jawa yang banyak di temui di pinggir-pinggir jalan Pulau Jawa.

RADARSITUBONDO.ID -  Ketika kita melangkah di sepanjang jalan-jalan di kota tua Indonesia, sering kali kita melihat deretan pohon asem jawa yang tinggi dan lebat kanopinya.

Pohon-pohon ini bukan sekadar hiasan, melainkan juga saksi bisu dari kecerdikan perencanaan infrastruktur pada masa kolonial Belanda yang telah ada selama lebih dari tiga ratus tahun.

Tamarindus indica, nama ilmiah untuk pohon asem jawa, menjadi pilihan utama pemerintah kolonial Belanda dalam inisiatif penghijauan jalanan yang dimulai pada abad ke-17. Ini adalah keputusan yang tidak diambil secara sembarangan, melainkan hasil dari analisis yang padu yang mempertimbangkan unsur praktis, ekonomi, dan ekologi sebagai satu kesatuan yang harmonis.

Pemerintah kolonial Belanda memiliki alasan yang jelas dan praktis untuk menanam pohon asem jawa di sepanjang jalan, dengan fungsi utama sebagai pohon peneduh yang memberikan perlindungan dari sinar matahari yang terik.

Di iklim panas Indonesia, kanopi lebat dari pohon asem sangat penting untuk memberikan keteduhan bagi para pejalan, penunggang kuda, dan juga hewan yang membawa barang-barang kolonial.

Menariknya, pohon ini mempunyai daun kecil, kanopi yang lebat, serta akar dan cabang yang kuat. Daunnya yang kecil tidak mudah gugur sehingga mengurangi sampah di jalan. Hal ini menunjukkan betapa telitinya pemerintah Belanda dalam memilih jenis tanaman yang sesuai untuk lingkungan tropis.

Asam jawa adalah satu-satunya anggota dari genus Tamarindus yang berada dalam famili Fabaceae (Leguminosae), menjadikannya spesies yang unik dan istimewa.

Pohon ini berasal dari Afrika Timur dan Madagaskar dan telah lama dibudidayakan serta menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi cuaca.

Berbagai sebutan lokal untuk pohon asem menunjukkan betapa dalamnya akar budaya dalam masyarakat Nusantara. Nama lain untuk asam jawa meliputi asam (Melayu), asem jawa (Jawa), asem,(Sunda), accem (Madura), Camba Makassar, serta variasi lokal seperti Boh meë di Aceh dan sebutan lainnya di seluruh Indonesia.

Meskipun Tamarindus indica adalah satu-satunya spesies, ada beberapa varietas yang dikembangkan selama masa kolonial. Asam jawa Jawa (Tamarindus indica var. dulcis) adalah varietas dengan buah yang jauh lebih besar dan daging buah yang tebal.

Selain itu, terdapat varietas manis yang dikenal sebagai sweet tamarind, yang populer dengan dua jenis yaitu asam jawa manis (asam kaba) dan asam manis lakham (asam Bangkok).

Karakter fisik pohon asem yang dipilih oleh Belanda memiliki sifat ideal untuk lingkungan jalan. Akar dan batang yang kuat membuatnya tahan terhadap angin kencang dan lalu lintas yang padat, sementara sistem perakarannya yang dalam dan kuat dapat menahan tanah dengan baik, mencegah erosi di sepanjang jalur transportasi kolonial.

Pohon asem adalah tanaman yang dapat hidup lama dan menghasilkan buah asam yang digunakan dalam kuliner, pengobatan tradisional, serta bahan pengawet. Keberagaman fungsi ini menjadikan pohon asem sebagai investasi jangka panjang yang bijaksana bagi pemerintahan kolonial.

Hingga saat ini, kita masih bisa merasakan manfaat dari warisan hijau yang ditinggalkan oleh penjajahan Belanda. Pohon-pohon asem yang berusia ratusan tahun tetap berdiri kokoh di sejumlah kota bersejarah, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Indonesia, mulai dari masa kolonial hingga saat ini.

Keberadaan mereka tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga mengingatkan kita akan kebijaksanaan dalam perencanaan kota yang telah lebih maju dari zamannya.

Upaya penanaman pohon asem jawa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda menunjukkan bahwa konsep infrastruktur hijau bukan hal baru, melainkan telah ada dan diterapkan dengan baik sejak lama.

Warisan ini mengajarkan kita mengenai pentingnya perencanaan yang menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan perekonomian dalam pengembangan yang berkelanjutan.


Editor : Ali Sodiqin
#Tamarindus indica #Asem Jawa