RADARSITUBONDO.ID - Di setiap penjuru jalan raya di Pulau Jawa, salah satunya Situbondo, pandangan kita sering dimanjakan oleh pohon asem yang tinggi dan rindang. Batang pohonnya yang kuat berwarna cokelat dan daunnya yang lebat seakan menceritakan sejarah yang panjang.
Tak disangka, hadirnya pohon-pohon megah ini bukanlah kebetulan dari alam semata, melainkan hasil dari strategi yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda yang sudah berumur lebih dari tiga abad.
Karel Heyne, dalam tulisannya "De Nuttige Planten van Nederlandsch Indie" 1916, menganggap pohon asam sebagai sesuatu yang menakjubkan. Ketertarikan ahli botani Belanda ini ada alasannya.
Kabupaten Situbondo memiliki iklim yang relatif kering dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jawa Timur. Suhu yang bisa mencapai 35°C di siang hari membuat keberadaan peneduh alami menjadi sangat penting. Pohon asem dipilih karena kemampuannya yang luar biasa untuk beradaptasi dengan tanah yang kurang subur dan curah hujan yang minim
Pemerintah kolonial Belanda kala itu, dengan ketelitian khas Eropa, tidak sembarangan dalam memilih pohon asem. Mereka memilih pohon asam (Tamarindus indica) untuk menjadi pohon peneduh di jalan utama di Pulau Jawa karena sejumlah kelebihan yang sejalan dengan kondisi tropis.
Mereka mempertimbangkan faktor praktis dan estetika dalam satu kesatuan. Akar pohon asem yang dalam dan menyebar mampu mencegah erosi tanah, sementara kanopi yang luas melindungi pelancong dan pedagang yang melintasi rute perdagangan utama.
Penanaman pohon asem secara massal bukanlah sekadar proyek lingkungan biasa. Penanaman pohon asam oleh pemerintah Belanda di sepanjang jalan atau lokasi tertentu didasari oleh sejumlah alasan penting. Dalam konteks kolonialisme, setiap keputusan diambil dengan pertimbangan ekonomi dan politik yang mendalam.
Jalan yang ditanami pohon asem menjadi jalur perdagangan yang nyaman, di Situbondo Pelabuhan Panarukan menjadi jalur perdagangan penting sebagai ujung timur Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Pelabuhan ini berfusngsi sebagai pusat pengumpulan komoditas ekspor seperti kopi, gula, dan kakao yang berasal dari daerah sekitar Situbondo.
Pedagang lokal dan Eropa bisa beristirahat di bawah lindungan-nya, tanpa khawatir akan terik matahari tropis. Ini mempercepat pergerakan barang dan jasa, yang pada akhirnya menguntungkan keuangan kolonial.
Selain itu, pohon asem dikenal tangguh dan mampu berdiri kokoh meskipun diterpa angin kencang, sehingga mengurangi risiko pohon tumbang yang dapat menghalangi jalan atau membahayakan para pengguna jalan.
Proses penanaman pohon asem dilakukan dengan perhitungan yang sangat cermat. Jarak antar pohon diatur agar tajuk-tajuk yang sudah dewasa bisa saling bersentuhan, membentuk jalur hijau yang sempurna. Bibit diambil dari pohon terbaik, lalu ditanam dengan jarak sekitar 15-20 meter agar setiap pohon memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh.
Para insinyur Belanda juga memperhatikan aspek pemeliharaan jangka panjang. Pohon asem tidak memerlukan banyak perawatan setelah fase pertumbuhan awal. Akar yang kuat dapat mencari air secara mandiri bahkan di musim kemarau, sedangkan dedaunannya yang lebat secara alami menghalangi pertumbuhan gulma di sekitarnya.
Pohon asem berperan penting dalam menyerap karbon dioksida dan memproduksi oksigen, yang sangat krusial untuk kualitas udara di area perkotaan. Tanpa disadari, Belanda telah menciptakan sistem paru-paru alami yang masih berfungsi hingga saat ini. Dedaunannya yang rapat mampu menangkap debu dan partikel polutan, sehingga memberikan udara yang lebih bersih bagi masyarakat di sekitarnya.
Buah asem yang memiliki rasa asam dan manis sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dari sinilah lahir olahan sayur asem. Hidangan tradisional seperti sayur asem, rujak, dan berbagai macam bumbu masak memanfaatkan buah dari pohon yang pada awalnya ditanam untuk kepentingan penjajahan.
Saat ini, saat kita menikmati udara segar di bawah pohon asem di tepi jalan, kita sebenarnya merasakan warisan yang rumit dari era kolonial. Pohon-pohon yang sekarang telah mencapai ratusan tahun ini menyaksikan pergeseran zaman, mulai dari masa penjajahan hingga kemerdekaan, dari zaman kereta kuda hingga zaman mobil modern.
Sejarah yang ironis menunjukkan bahwa sesuatu yang dulunya dirancang untuk kepentingan penjajah, saat ini menjadi anugerah bagi rakyat Indonesia. Pohon-pohon asem yang besar ini tidak hanya memberikan bayangan dan kesegaran, tetapi juga mengajarkan kita bagaimana keputusan dari masa lalu dapat membawa kebaikan bagi generasi yang akan datang.
- Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News