RadarSitubondo.id - Wisata religi makam Raden Condro Kusumo, di Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, tak lekang oleh zaman. Keberadaannya masih terus dipadati peziarah dari berbagai daerah. Untuk menuju makam keramat di pertengahan puncak Gunung Ringgit itu, harus menghindari sejumlah pantangan, di antaranya tidak boleh mengeluh.
Untuk tiba ke makam Raden Condro Kusumo tidak mudah. Pengunjung harus berjalan kaki melintasi jalan setapak. Untuk membawa kendaraan mustahil. Sebab jalannya penuh batu, nampak seperti sungai kering yang penuh batu.
Di sepanjang jalan juga banyak akar pohon tua yang terhampar. Begitu tiba di separo jalan pantura menuju ke arah selatan, pengunjung tidak akan luput dari sapaan puluha ekor monyet liar. Kawanan kera itu akan membuntuti pemgunjung untuk meminta makanan.
Nah, saat hewan liar itu mendekat, pengunjung dilarang memberi pakan. Jika dilakukan, keselamatan pengunjug bisa terancam. Satu monyet yang diberi makanan akan mengundang kawan-kawannya. Solusinya, biarkan saja monyet itu tanpa diberi makanan.
Hal lain yang tidak boleh dilakukan pengunjung, adalah mengeluh. Itu disampaiakan oleh sejumlah pengunjung yang sudah tiba ke makam. Saat seseorang mengeluh lelah, maka perjalanan akan ditempuh terasa sangat jauh.
"Rumor yang beredar pengunjung tidak boleh mengeluh. Kalau sampai mengeluh, perjalanan ke makam akan tambah lama. Ini disampaikan banyak orang dan rumor ini diyakini, saya juga membuktikan,"kata Narwiyoto, Kepala Desa Klatakan, pada Koran ini, kemarin (19/8)
Pengunjung juga disarankan tidak hura-hura saat menuju makam Raden Condro Kusumo. Pengunjung harus sopan dan yakin bisa tiba di makam Raden Condro Kusumo, bahkan hingga ke puncak gunung yang dikenal dengan sebutan Gunung Putri Tidur.
"Banyak kejadian pendaki kesurupan, kesasar di tengah jalan, hingga meninggal. Ya kabarnya saat menuju makam sambil loncat-loncat di bebatuan dan berisik. Jadi mistis kan karena lokasinya memang sepi" imbuh Narwiyoto.
Dia menceritakan, untuk menuju makam Raden Condro Kusomo banyak jalan pintas. Pendaki yang tidak pamit kepada juru kunci bisa kesasar dan sulit untuk kembali. Hal tersebut bukan hanya cerita fiksi tapi terbukti.
"Dulu ada salah satu pengunjung yang ingin ke makam malah kesasar masuk ke hutan tembus ke Pasir Putih. Malah yang mencari adalah tim BPBD dan Tagana Situbondo," tuturnya.
Pak Kom, 59, salah satu warga Dusun Pecaron, Desa Klatakan, mengatakan, bahwa pengunjung yang datang ke Gunung Suunan cukup ramai. Apalagi pada malam Jumat Manis. Pengunjung sampe bermalam di atas gunung.
“Tiap hari ramai orang yang berziarah ke makam Raden Condro Kusumo. Kalau dikatakan mistis memang iya. Yang kesurupan juga ada, tapi tidak banyak. Mungkin yang kesurupan adalah orang yang tidak yakin,” tegas pak Kom, sambil melinting tembakau.
Dikatakan, dirinya sudah puluhan kali tiba di puncak Gunung Suunan. Perjalan ke puncak gunung bisa ditempuh empat jam. Tapi kalau orang yang belum terbiasa mendaki butuh waktu satu hari baru tiba di puncak. “Saya sudah puluhan kali naik ke puncak, dari bawah ke atas bisa ditempuh setengah hari. berangkatnya empat jam. Pulangnya lebih cepat, paling tiga jam,” pungkasnya. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono