RADARSITUBONDO.ID - Nama Palopor di Kabupaten Situbondo sudah tak asing lagi. Demikian juga dengan eksistensinya. Ketua Pusat Komandonya dipegang oleh H. Hijir Ismail.
Palopor adalah organisasi yang dibentuk Kiai As'ad untuk merangkul para bajingan. Mereka dirangkul agar bertobat. Tak hanya itu, orang-orang 'hitam' itu juga diajak berjuang menjaga kemanan pesantren dan NKRI.
“Palopor dibentuk langsung oleh Kiai As’ad, keberadaan Palopor untuk merangkul bajingan maupun bromocorah agar bertobat dan bergabung membentengi p
Pesantren Sukorejo sekaligus keamanan NKRI,” ungkap H. Ismail.
H Ismail sendiri tak pernah mengenal kata lelah dalam mengabdikan diri terhadap Pondok Pesantren (Ponpes) Syalafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Saat ini, dia juga ikut terus menjaga ketertiban wilayah Situbondo dari para berandalan. Langkah ini juga sesuai dengan tujuan Palopor.
Dia menceritakan, Palopor yang masih eksis hingga saat ini sudah melalui tiga kepemimpinan. Pemimpin pertama Palopor adalah Kiai Zainullah Johar. Ke dua dijabat oleh Kasmoto, dan ke tiga dijabat oleh H. Ismail.
“Saya menjadi ketua Palopor sudah puluhan tahun. Saya menjabat saat Kiai Fawaid menjadi pengasuh Ponpes Sukorejo hingga diganti oleh Kiai Azaim Ibrahimy,” tegas H. Ismail.
Dia menceritakan, memimipin Palopor penuh suka-duka. Sebab, tantangannya adalah melawan bajingan maupun bromorcorah.
Selama menjabat, H Ismail tak jarang bersinggungan dengan aksi-aksi kekerasan saat turun ke lapangan. Namun berkat barokah Kiai As’ad, segala urusan bisa menjadi lancar dan mudah.
“Sampai saat ini Palopor tetap menangkap bajingan, hampir semua maling yang ditangkap tidak luput dari Gerakan Palopor. Dulu saya juga pernah dikoroyok sebanyak 40 orang. Lawannya ada yang pakai celurit dan bom molotof. Alhamdulillah musuh yang banyak bisa saya pukul mundur,” ujar Ismail.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pokdar Kamtibmas Polres Situbondo ini menceritakan, penjahat pada zaman dahulu sangat kejam. Begitu mau mencuri, tidak pandang siang dan malam. Cara kerjanya juga sangat sadis. Tak jarang korban dicuri hartanya lalu diperkosa bahkan dibunuh.
“Cara untuk mengatasi orang jahat ya harus bertarung kalau menang baru musuh dirangkul, ya sabar adalah kunci utama,” tutup H. Ismail. (pri)
Editor : Edy Supriyono