Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Libur Ramadan Beda! Santri Nurul Huda Kapongan Wajib Ngajar Tajwid & Bahasa untuk Anak Usia Dini

Moh Humaidi Hidayatullah • Jumat, 27 Februari 2026 | 22:29 WIB

PAMITAN: Santri putra mencium tangan Habib Muhammad Taufik Al Djufri, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Rabu lalu (25/2).
PAMITAN: Santri putra mencium tangan Habib Muhammad Taufik Al Djufri, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Rabu lalu (25/2).

RADARSITUBONDO.ID - Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, memiliki ciri khas tersendiri dalam meliburkan ratusan santrinya. Sebab, santri yang sudah dipulangkan diberi tugas wajib mengajar kursus setiap hari. Sasaran utama adalah anak-anak usia dini.

Santri Pesantren Nurul Huda yang dipulangkan tujuh hari setelah berpuasa di pesantren sudah berada di rumahnya masing-masing. Kini mereka diberi tanggung jawab mengisi hari-hari selama bulan Ramadhan dengan mengiisi kursus tajwid dan Bahasa (TABA) untuk anak-anak usia dini.

Kegiatan itu bukan hanya formalitas, sebab semua wali santri sudah diajak bekerjasama. Yaitu dimasukkan grup whatsapp agar ikut mengawasi putra putrinya. Sekaligus melaporkan setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh santri selama di rumah.

“Semua pondok memulangkan santrinya setiap bulan Ramadhan. Santri Nurul Huda dipulangkan juga tapi selama di rumah harus mengisi kursus TABA,” kata Ustad Ahmad Abdul Latif, wakil Ketua Biro Kepesantrenan, Jumat (27/2).

Kursus yang diberikan kepada anak usia dini sangat ringan dan dianggap sangat bermanfaat bagi anak-anak. Yang mengajar maupun yang belajar tidak akan merasa jenuh.

“Santri yang pulang mengajar tajwid, Bahasa arab dan inggris. Materi yang diajarkan berupa kosa kata yang dipakai setiap hari. Ada lagu-lagu berbahasa Inggris dan Arab yang bisa menghibur anak-anak di kampung-kampung,” cetus ustad Ahmad.

Ahmad Fakih, salah satu santri kelas 2 MTs mengatakan, bahwa dirinya pulang bukan untuk bermain-main, tapi untuk belajar mengajar. Setidaknya meskipun masih dua tahun mondok, sudah bisa mengajar.

“Senang karena bisa mengajar adik-adik di rumah. Habis melaksanakan tugas ya baru jalan-jalan juga,” kata Fakih sambil tertawa.

Dia mengaku, sudah dua hari mengisi kursus TABA. Murid yang diajak belajar tampat merasa senang. Buktinya kehadiran murid yang saya latih rajin datang.

“Katanya lagu-lagu bahasa yang saya berikan gampang-gampang dan cepat hafal. Santri saya tidak banyak hanya lima orang. Kalau yang lain bervariasi, ada yang sepuluh ada yang lebih dari sepuluh. Tergantung lingkungannya,” pungkas Fakih. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #libur Ramadan