RADAR SITUBONDO - Setiap kali azan Magrib berkumandang, ada satu doa berbuka yang sangat populer di kalangan umat Islam. Doa itu diawali dengan kalimat “Dzahaba al-dhama’u”. Banyak orang menyebutnya singkat sebagai doa buka puasa dzahaba, merujuk pada kata pertama dalam bacaan tersebut.
Doa Dzahaba Saat Berbuka
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahaba al-dhama’u wabtallatil ‘uruq wa tsabatal ajru insya Allah.
Artinya:“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”
Doa ini diriwayatkan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ dan dibaca setelah berbuka puasa.
Makna Mendalam di Balik Doa
Kalimat “dzahaba al-dhama’u” berarti rasa haus telah pergi. Ini bukan sekadar pernyataan fisik, tetapi ungkapan syukur setelah menahan lapar dan dahaga seharian.
Bagian kedua, “wabtallatil ‘uruq” (urat-urat telah basah), menggambarkan tubuh yang kembali segar setelah mendapatkan asupan. Sedangkan “wa tsabatal ajru insya Allah” menegaskan keyakinan bahwa pahala puasa telah dicatat oleh Allah, tentu dengan harapan dan kerendahan hati.
Doa ini terasa sangat realistis dan menyentuh, karena sesuai dengan kondisi orang yang baru saja berbuka. Tidak berlebihan, tidak panjang, tapi penuh makna.
Kapan Dibaca?
Mayoritas ulama menjelaskan doa ini dibaca setelah berbuka, yakni setelah benar-benar membatalkan puasa dengan makan atau minum.
Berbeda dengan doa niat atau doa sebelum berbuka yang berisi permohonan, doa “dzahaba” lebih bersifat ungkapan syukur atas selesainya ibadah puasa hari itu.
Perlukah Hanya Membaca Doa Ini?
Dalam praktiknya, ada beberapa versi doa berbuka yang dikenal di masyarakat. Namun para ulama menjelaskan bahwa tidak ada keharusan mengkhususkan satu lafaz tertentu saja. Intinya, seorang Muslim boleh berdoa apa saja saat berbuka, karena waktu berbuka termasuk waktu mustajab.
Doa “dzahaba al-dhama’u” menjadi populer karena redaksinya ringkas, sesuai hadis, dan mudah dihafal.
Editor : Agung Sedana