RADARSITUBONDO.ID - Di Jalan Melati, tepat di utara Geledek Macan (UGM) Kelurahan Patokan, Kecamatan/ Kota Situbondo, ada padagang sate yang tak pernah sepi pembeli. Pasangan suami istri (pasutri) Egi Puri Hartono, 29 dan Ana Khofifah, 27, bisa mengantongi omzet kotor Rp 700 ribu dengan keuntungan bersih Rp 300-400 ribu dalam satu malam.
Agi mengaku, belum sampai setahun membuka lapak di pinggir jembatan yang dikenal Geledek Macan tersebut. Awal jualan hanya membuka menu sate lalat/sate ayam. Itupun hanya melanjutkan usaha nenek.
“Dulu hanya jualan seta lalat. Usaha sate ini dulunya milik nenek dan kami hanya melanjutkan,” ujar Egi, Kamis (14/5).
Kata dia, lapak mulai dibuka sejak pukul 16.00 hingga pukul 23.00. Sebab pembelinya memang kebanyakan pada malam hari. Beberapa bulan kemudian menu sate lalat ditambah dengan Sate Taichan.
“Dulu pas sate lalat lumayan rame, sejak buka menu Sate Taichan tambah banyak peminatnya. Alhamdulillah tiap malam tidak pernah sepi dari pelanggan. Ada yang langsung makan di tempat ada juga yang pesan online,” ucap Egi.
Dia mengaku, pendapatan jualan sate di pinggir jalan cukup menggiurkan. Sebab dalam semalam bisa raup untung Rp 300 ribu hingga 400 ribu. Baginya gengsi hilang saat melihat jualan laris manis tiap malam.
“Saya tidak pernah merasa gengsi jualan. Tapi pas awal buka malu juga. Sempat kepikiran juga gimana kalau tidak adak ada pembelinya. Sekarang alhamdulilah sudah dapat hasilnya, semalam bisa dapat untung Rp 400 ribu,” ujar egi sambil mengipas sate.
Dikatakan, Sate Taichan beda dengan sate yang lain. Daging Sate Taichan sudah diberi bumbu sebelum dipanggang. Sambelnya tidak fokus pada kacang dan kecap. Beda dengan sate lalat dan sate pada umumnya main bumbu kacang dan kecap.
“Kalau Sate Taichan fokus ke sambal dan jeruk tidak main kecap dan kacang. Daging ayam juga sudah diberi bumbu sebelum dibakar,” ujarnya.
Egi mengaku, istrinya memang menguasai cara berdagang sejak kecil. Sebab keluarganya kebanyakan pedagang. Bahkan sejak kecil sudah sering ukut menjaga lapak sate.
“Kalau istri saya sudah mahir jualan sejak keci, karena lingkungan keluarganya banyak yang berwirausaha,” tutup Egi. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono