RADARSITUBONDO.ID – Pondok Pesantren Nurul Hikam di Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan, memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Kabupaten Situbondo. Berdiri pada tahun 1890 Masehi, Pondok tersebut awalnya belum dikenal sebagai pesantren, melainkan hanya pondokan seorang tabib atau tempat orang mencari petunjuk dan mengaji sederhana bagi banyak orang di wilayah Kabupaten Situbondo maupun luar Kabupaten.
Pengasuh ketiga Ponpes Nurul Hikam, KH. Muhammad Yunus Zaini Abdul Aziz mengatakan, pada awal berdirinya masyarakat lebih mengenal Pondok ini dengan sebutan “Pondok Kesambi” karena berada di tempat yang ditumbuhi Pohon Kesambi. Pengasuh pertamanya pun, KHR. Moh. Ra'is Bin Ibrahim juga terkenal dengan julukan Kiai Kesambi.
KH. Rois Bin Ibrohim satu generasi ketika mondok di Syaikhona Kholil Bangkalan dengan Pendiri Pesantren Salafiyah-Syaifi’iyah Sukorejo, KHR Syamsul Arifin. Bahkan, sebelum mendirikan pesantren Sukorejo, Kiai Syamsul Arifin pernah singgah dan membantu mengajar para santri di Pondok Kesambi yang berada di Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan. “Menurut cerita yang sampai kepada saya, selain dikenal sebagai tokoh agama, beliau (Kiai Rois Bin Ibrohim / Kiai Kesambi) juga merupakan seorang tabib yang banyak membantu mengobati masyarakat. Beliau juga aktif berdakwah se-zaman dengan Kiai Syamsul Sukorejo dan Kiai Hasan Genggong,” ujar pria yang akrab dipanggil Ra Yunus Zaini tersebut.
Menurut dia, meski aktifitas belajar mengajar sudah ada sejak akhir 1800 an, namun sebutan "Nurul Hikam" sebagai sebuah pesantren baru ada pada kurang lebih tahun 1980 an. Ada juga riwayat yang menceritakan bahwa pada tahun 1970 an, “Ini kalau merujuk pada sejarah bahwa Pondok Kesambi ini merupakan rujukan bagi banyak orang mulai dari seorang pengusaha, ustadz maupun kiai pada zaman itu ketika hendak membabat pesantren ataupun berdakwah, ‘Nurul Hikam’ itu sendiri yang berarti cahaya petunjuk,” ungkapnya.
Secara eksistensi usia Pondok Pesantren Nurul Hikam kini sudah mencapai satu abad lebih. Menjadi bagian dari sejarah perkembangan Pondok Pesantren di Situbondo serta simbol perjuangan dakwah dan pendidikan Islam yang diwariskan lintas generasi. Mengalami tiga masa kepengasuhan. Yakni KHR. Moh. Rois bin Ibrohim (1890 – 1964), KH. Ahmad Zaini Bin Abdul Aziz (1973 - 2016), KH. Muhammad Yunus Zaini Abdul Aziz (2020 - sekarang).
Ra Yunus Zaini menuturkan, setelah kepergian ayahnya pada tahun 2016 dirinya dipercaya menjadi Pengasuh Ponpes Nurul Hikam. Tak hanya membimbing dan mengajar Santri tapi juga fokus memperbaiki sistem yang ada di Pondok Pesantren ini. Sehingga, ada perubahan yang cukup pesat jika dilihat dari sudut padang sebelumnya.
Dia sadar, merawat dan mengembangkan amanah tersebut bukan hal yang mudah karena sistem pendidikan pesantren pada masa lampau sangat berbeda dengan sekarang yang semakin modern dan berkembang mengikuti teknologi yang tranding pada sa'at. “Dulu sistemnya masih sangat sederhana. Santri hanya menjalankan kewajiban shalat berjama'ah yang dilanjutkan dengan mengamalkan Tarekatnya yakni Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqsyabandiyyah dan sekolah di Madrasah serta ngaji sorogan,.” ujarnya.
Sejak tahun 2020, Pengasuh (Ra Yunus Zaini) mulai menerapkan sistem baru atau evaluasi pembelajaran santri. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar kegiatan Pondok Pesantren ini lebih efektif dan terarah. Puncaknya pada tahun 2023. Banyak santri yang juara dalam perlombaan di tingkat kecamatan, kabupaten, provensi hingga nasional, khususnya dalam bidang Bahasa Arab dan Bahasa Inggris serta Kitab Kuning.
“Setelah menerapkan sistem baru atau lebih dikenal oleh santri dengan sebutan ikhtibar, respon masyarakat sangat positif karena hasil belajar santri selama satu tahun ditampilkan. Dari sanalah minat masyarakat untuk memondokkan anaknya semakin meningkat,” ucap Kiai yang relatif berusia muda tersebut.
Ra Yunus Zaini menegaskan, sistem belajar mengajar ini harus tetap menjadi inti dari semua kegiatan agar sebuah Pondok Pesantren terus berkembang dan dipercaya oleh masyarakat luas. “Bagaimanapun prosesnya, kebanyakan orang tetap hanya melihat hasilnya. Karena itu kami terus berbenah agar kepercayaan masyarakat semakin meningkat,” tutupnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono