RADARSITUBONDO.ID - Ruwatan pekarangan rumah digelar oleh warga Desa Curahtatal, Kecamatan Arjasa, Kamis malam (25/6) bersamaan dengan 10 Asyura. Ritual ini digelar untuk menyuncikan lingkungan dan menolak malapetaka selama satu tahun.
Pantauan Jawa Pos Radar Situbondo, warga di Dusun Cangkring, Desa Curahtatal, sama-sama menggelar doa bersama di rumahnya masing-masing. Doa yang dibaca juga khusus. Yaitu doa yang diwariskan KHR. Abdul Latief adik KHR. Syamsul Arifin, pendiri pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo.
"Rata-rata warga di sini merokat rumahnya. Saya dari tadi sudah pindah-pindah diundang mimpin doa," ujar Abu Sa'id Abrori, salah satu kiai di Desa Curahtatal.
Dalam tradisi ruwatan, kata dia, warga banyak menghidangkan nasi tumpeng, bubur suro, panggang ayam, dan kue warna-warni. Usai didoakan, semua hidangan diambil. Yang menarik, sebagian hidangan tersebut ada yang dikubur di halaman pekarangan rumah. Tindakan tersebut dianggap sedekah pemilik rumah terhadap bumi.
"Ini kan ada ayam panggang, jadi kaki, kepala, dan pantat ayam diambil. Selain itu sejumlah kue warna-warna warni dijadikan satu dan dikuburkan," tutur Kiai Abu Sa'id.
Kata dia, tanggal 10 Muharram atau dikenal sebagai hari Asyuro memang diperingati umat Islam dengan berbagai cara. Tradisi yang dikenal secara umum seperti puasa sunah, menyantuni anak yatim dan memperbanyak sedekah.
"Kalau orang awam jarang baca doa-doa yang sudah dianjurkan para ulama. Tapi kalau tradisi orang awam tidak akan lupa," pungkas Abu Sa'id. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono