RADARSITUBONDO.ID – Pagi di Dusun Dawuh, Desa Jatibanteng, Kecamatan Jatibanteng, terasa lebih khidmat setiap kali bulan Suro tiba. Di sebuah kolam tua yang dikelilingi pepohonan, warga berkumpul membawa doa, harapan, dan keyakinan yang diwariskan lintas generasi. Mereka datang bukan sekadar mengambil air, melainkan menjaga sebuah tradisi yang diyakini mampu membuang balak dan memohon keselamatan bagi anak-anak perempuan.
Kolam yang dikenal sebagai Air Setaman itu hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Di tengah arus modernisasi, ritual mandi menggunakan air kolam tersebut tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Kepala Dusun Dawuh, Rasidi Imron, mengatakan tradisi itu telah berlangsung sejak zaman nenek moyang. Salah satu prosesi yang masih dipertahankan ialah memandikan anak perempuan, terutama mereka yang akan memasuki jenjang pernikahan.
"Dari dulu setiap gadis yang akan menikah pasti dimandikan dulu di kolam Air Setaman. Ritualnya ya dimandikan menggunakan air setaman," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Situbondo, Senin (6/7).
Bagi masyarakat Dusun Dawuh, Air Setaman bukan sekadar sumber mata air. Air tersebut dipercaya membawa doa keselamatan, menghindarkan seseorang dari penyakit, sekaligus menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki fase baru dalam kehidupan.
Tradisi ini hanya digelar sekali dalam setahun, tepat pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Prosesi diawali dengan selamatan dan doa bersama atau rokat bumi yang dipimpin tokoh agama desa. Setelah rangkaian doa selesai, anak-anak perempuan secara bergantian dimandikan menggunakan air dari kolam tersebut.
"Sebelum anak-anak perempuan dimandikan, warga dipimpin kiai desa menggelar doa rokat bumi dulu. Setelah doa selesai, baru prosesi mandi bersama dimulai. Tahun ini sudah dilaksanakan Jumat lalu (3/7)," jelas Rasidi.
Nuansa sakral terasa menyelimuti seluruh rangkaian acara. Bagi warga, ritual tersebut bukan praktik mistis, melainkan bentuk ikhtiar budaya yang dipadukan dengan doa kepada Tuhan agar seluruh keluarga diberi kesehatan, keselamatan, dan dijauhkan dari berbagai musibah.
Tak hanya mempertahankan tradisi, masyarakat juga mulai menyiapkan langkah agar Air Setaman berkembang menjadi pusat kegiatan budaya desa. Pemerintah dusun bersama warga berencana mengemas pelaksanaan tradisi lebih meriah mulai tahun depan.
Salah satu gagasannya ialah menyatukan tumpeng dari seluruh RT dalam satu lokasi sebagai bagian dari selamatan bersama. Konsep tersebut diharapkan mampu memperkuat kebersamaan warga sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di Kecamatan Jatibanteng.
"Ini warisan leluhur. Kalau tidak kita yang menjaga, siapa lagi. Tahun depan akan kita pusatkan supaya lebih meriah dan anak cucu tahu asal-usul tradisi ini," tegas Rasidi.
Di tengah perubahan zaman, Air Setaman di Dusun Dawuh menjadi bukti bahwa tradisi tidak selalu memudar. Justru melalui ritual sederhana yang diwariskan turun-temurun, masyarakat Jatibanteng terus merawat identitas budaya sekaligus menjaga ikatan antargenerasi agar nilai-nilai leluhur tetap hidup di masa depan. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono