RADARSITUBONDO.ID – Di tengah hidup yang tak pernah sepi oleh notifikasi, tuntutan pekerjaan, dan hiruk-pikuk media sosial, Puncak Legend Selobanteng, Situbondo, menawarkan cara berbeda untuk menemukan ketenangan. Santri tidak hanya diajak mengaji dan berdzikir, tetapi juga turun ke kebun, menanam sayuran, membersihkan lingkungan, serta belajar menjalani hidup secara sederhana.
Pola tersebut diterapkan di Pondok Pesantren Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil Alamin – Puncak Legend Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur. Berada di kawasan yang jauh dari kebisingan kota, pesantren itu menjadi ruang bagi mereka yang ingin sejenak berhenti dari kepenatan dan menata kembali hubungan dengan diri sendiri, sesama, serta alam.
Pembina Puncak Legend Tuan Guru Moh Sazli Harahap mengatakan, gagasan tersebut lahir dari kegelisahan melihat banyak orang menjalani kehidupan dengan kondisi hati dan pikiran yang lelah. Bahkan, penggunaan gadget yang berlebihan kerap membuat seseorang sulit benar-benar beristirahat.
“Zaman sekarang orang capek. Capek kerja, capek mikir, bahkan capek karena ingin selalu dipuji di media sosial. Sedikit-sedikit melihat HP, akhirnya pikiran tidak tenang,” ujarnya, Sabtu (12/9).
Menurut dia, Puncak Legend bukan tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Sebaliknya, pesantren tersebut menjadi ruang untuk berhenti sejenak agar seseorang dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih sadar.
“Bukan tempat untuk pamer. Tapi tempat untuk mengistirahatkan hati,” katanya.
Keseharian santri pun diarahkan pada dua hal. Pertama, menata diri melalui salat, dzikir, mengaji, merenung, dan membiasakan hidup sederhana. Kedua, merawat alam melalui kegiatan bertani, menanam sayuran, menjaga kebersihan, serta mengelola lingkungan pesantren.
Bagi Tuan Guru Sazli, kegiatan di kebun bukan sekadar pekerjaan fisik. Di dalamnya terdapat nilai kesabaran, tanggung jawab, dan rasa syukur.
“Kalau hati kita baik, alam juga akan kita rawat. Kalau alam dirawat, kehidupan kita juga menjadi lebih nyaman dan tenang,” jelasnya.
Karena itu, santri tidak hanya belajar agama melalui pengajian. Nilai-nilai tersebut juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Merawat tanaman dan membersihkan lingkungan menjadi bagian dari proses belajar memahami hubungan manusia dengan alam.
Penggunaan telepon pintar pun tidak dijadikan ukuran kehidupan. Santri justru diarahkan mengurangi waktu bersama HP agar memiliki ruang lebih banyak untuk beribadah, bekerja, berinteraksi secara langsung, dan menikmati suasana alam.
“Harga diri seseorang bukan diukur dari banyaknya teman di media sosial. Tapi dari seberapa baik perilakunya,” tambah Tuan Guru Sazli.
Menemukan Tenang dari Hal Sederhana
Bagi sejumlah orang yang pernah mengikuti aktivitas di Puncak Legend, pola hidup tersebut memberi pengalaman berbeda. Jaka, 24, asal Surabaya, misalnya. Dia datang setelah merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan dan kebiasaan menggunakan HP hingga larut malam.
“Dulu tiap malam tidurnya pegang HP. Scroll terus sampai jam 2. Bangun-bangun kepala pusing, hati kosong,” tuturnya.
Selama dua pekan berada di pesantren, dia mengikuti pola hidup yang jauh berbeda. Pagi diisi mengaji, siang bekerja di kebun, dan malam berdzikir.
“Di sini saya disuruh jauh dari HP. Pagi ngaji, siang ke kebun, malam dzikir. Anehnya malah jadi lebih tenang. Tidur lebih nyenyak. Baru ngerti ternyata selama ini bukan hanya badan yang capek, tapi pikiran juga,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Hj. Dian Rachmat, 50, pemilik usaha tata rias Humairoh Make Up di Situbondo. Dia mengikuti aktivitas di Puncak Legend selama sepekan.
“Di rumah itu bawaannya marah terus. Anak rewel sedikit emosi. HP juga tidak bisa lepas. Rasanya hidup kok gersang,” ucapnya.
Di Puncak Legend, Dian mengikuti dzikir bersama, memasak, hingga menanam tanaman bersama santri. Menurut dia, aktivitas sederhana tersebut justru membuat pikirannya lebih tenang.
“Diajak dzikir bareng, masak bareng, nanam bareng. Hati jadi adem. Pulang ke rumah saya jadi lebih sabar. HP juga sekarang saya batasi,” katanya.
Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa ketenangan tidak selalu harus dicari melalui sesuatu yang rumit.
“Ternyata bahagia itu sederhana,” ujarnya.
Tuan Guru Sazli menegaskan, inti kegiatan di Puncak Legend bukan mengajak seseorang meninggalkan kehidupan, melainkan belajar kembali menjalaninya dengan lebih sadar.
“Tidak harus menjadi santri selamanya. Bisa datang beberapa hari untuk menenangkan diri. Di sini kita belajar tiga hal: tenang, kerja nyata, dan bersyukur,” pungkasnya.
Pondok Pesantren Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil Alamin – Puncak Legend Selobanteng terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar menjalani kehidupan lebih sederhana melalui pendekatan keagamaan, kegiatan sosial, kebersamaan, serta interaksi dengan alam.
Meski demikian, pendekatan tersebut bukan pengganti layanan medis maupun psikologis bagi mereka yang membutuhkan penanganan profesional. Puncak Legend lebih menawarkan lingkungan yang tenang, aktivitas keagamaan dan fisik, kebersamaan, serta pembiasaan hidup sederhana sebagai ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo