/1/
TUHAN menciptakan manusia dengan akal sebagai kelebihannya adalah suatu anugerah. Dengan akal, hakikat manusia dengan makhluk lain, seperti hewan, menjadi pembeda.
Dengan akal pula, manusia mampu melampaui makhluk lain bernama malaikat. Akal adalah puncak nalar dan kelogisan manusia.
Seturut dengan akal, nurani adalah penyeimbang. Ia penentu pertimbangan manusia dalam segala laku kehidupan.
Hal yang baik, hal yang buruk, hal yang di antara keduanya, didasarkan pada nurani yang mau menerima dan menolak apa yang telah dilakukan oleh akal, yaitu melalui proses berpikir.
Persoalan yang muncul, benarkah dengan anugerah demikian manusia mampu berpikir logis dan bernurani bijak?
/2/
Menurut Thomas Lickona dalam bukunya yang berjudul Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, pendidikan karakter adalah upaya secara sadar seseorang untuk mendidik orang lain dengan menginternalisasi nilai-nilai karakter sebagai unsur pencerahan (enlightenment) bagi mereka.
Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan upaya kolektif untuk membantu seseorang dalam memahami, peduli, dan bertindak sebagai landasan etis.
Pendidikan karakter mendorong manusia untuk menampilkan perilaku baik, seperti jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan beretika selayaknya manusia.
Pendidikan karakter, sebagai medium yang mendorong murid menjadi manusia seutuhnya, mempunyai beberapa tujuan, di antaranya:
Pertama, pendidikan karakter dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang berkualitas.
Kedua, adanya pendidikan karakter ditujukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki karakter mulia, kompeten, dan bermoral sekaligus membekali murid dengan kecerdasan emosi.
Ketiga, membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak, hingga toleran dengan perbedaan juga termasuk salah satu tujuan lain dari keberadaan pendidikan karakter.
Hal demikian penting bagi para pemerhati dan pelaku dunia pendidikan untuk dipahami untuk menciptakan generasi-generasi yang unggul dan mempunyai etikabilitas.
/3/
Sementara itu, secara konseptual, pendidikan karakter adalah model pendidikan yang mengandung tiga unsur fundamental dengan sifat saling berkesinambungan.
Ketiganya yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).
Titik temu dari ketiga unsur ini berada pada konteks kebaikan. Unsur-unsur tersebut mesti ditempa dan dibiasakan agar tidak berhenti pada salah satu unsur semata.
Dengan demikian, pendidikan karakter memang termasuk model pendidikan yang berbasis pada upaya menciptakan sumber daya manusia yang bermoral dan memiliki sikap yang baik.
Tidak hanya itu, pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian murid yang selaras dengan cita-cita konstitusi, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara.
/4/
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan kajian mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam konteks pendidikan karakter di Indonesia. Kelima nilai yang dimaksud yakni:
Pertama, nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Mahaesa.
Kedua, nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan diri sendiri.
Ketiga, nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan sesama manusia.
Keempat, nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan lingkungan.
Kelima, nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan kebangsaan. Kelima nilai tersebut digali dari falsafah hidup bangsa dan selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Tidak dapat dimungkiri, perkembangan zaman yang kian pesat dan teknologi yang makin menembus batas-batas peradaban, menciptakan ruang-ruang tak bersekat antara pribadi satu dengan yang lain.
Jarak menjadi nisbi, informasi-informasi berseliweran tanpa henti, sementara ilmu pengetahuan kehilangan pakar yang membidani.
Hal ini bila tidak diimbangi dengan penanaman pendidikan karakter kepada para murid, akan menjadi seperti penggembala yang kehilangan tali kekang gembalaannya.
Bangsa ini perlu dituntut oleh manusia-manusia dengan karakter-karakter yang baik agar arah kapal tiada kehilangan arah setelah layar terkembang hampir delapan dasawarsa.
Dengan demikian, tidak akan kita temui lagi persoalan-persoalan yang menyangkut kepribadian buruk manusia sehingga menjatuhkan marwah dan martabat manusia sebagai Manusia (dengan M besar) seutuhnya. Sepenuhnya. (*)
*) Katib yang berkhidmah di SMAN 1 Panarukan sebagai Guru Bahasa Indonesia.
Editor : Ali Sodiqin