Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Toleransi dan Kehidupan Masa Kini

Ali Sodiqin • Kamis, 11 Januari 2024 | 18:11 WIB
Oleh: SAHIL SHUHUFUL ULUM*
Oleh: SAHIL SHUHUFUL ULUM*

APA sih toleransi itu? Secara Etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin yakni “ tolerare” yang bermakna saling menanggung serta saling memikul.

KBBI sendiri menuliskan toleransi berasal dari Bahasa Inggris yang bermakna sama seperti kamus berbahasa Inggris, ”The ability or willingness to tolerate something in particular the existence of opinion of behavior that one does not necessorrily agree with’’.

Tolerare bermakna kemampuan atau kesediaan untuk menoleransi sesuatu khususnya adanya pendapat tentang perilaku yang belum tentu disetujui oleh seseorang.

Sementara itu, Indonesia adalah negara yang diakui oleh dunia sebagai negara yang kaya akan suku serta budayanya.

Karena inilah, sikap toleransi harus dibiasakan sejak dini untuk menjaga perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Karena tidak menutup kemungkinan terjadinya kasus intoleransi akibat berbeda suku juga keyakinan.

Akademisi UIN Prof KH. Saifuddin Zuhri berpendapat, beragam perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan dalam rangka turut mendukung pembangunan bangsa.

Bukan malah menjadi media dis-intregasi bangsa. Salah satu caranya ialah dengan merawat dan menguatkan toleransi antar sesama.

Toleransi juga terdapat dalam semboyan Pancasila, yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna berbeda beda tapi tetap satu jua. Ini menjadikannya sebagai pedoman bangsa Indonesia.

Mengutip dari sebuah buku “toleransi berbasis kearifan local semboyan Negara diatur dalam pasal 36A UUD 1945”, juga toleransi ini masih berkaitan dengan hak asasi manusia yang mana hak asasi manusia terlahir tidak terlepas dari penindasan pihak penguasa kepada para bawahannya.

Hak asasi manusia sendiri ialah anugerah Tuhan yang diberikan kepada setiap manusia sejak masih dalam kandungan. Dengan tujuan untuk menjamin harkat dan martabat manusia serta menjaga keharmonisan dengan lingkungannya.

Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan, betapa pentingnya toleransi antar sesama. Bahkan pada yang bukan umat Islam, sebagaimana Washington Nerving (1783-1859) seorang penulis biografi dan sejarawan terkemuka menulis:

“Beliau (Nabi Muhammad SAW) dalam urusan pribadi pun masih tetap berlaku adil. Beliau memperlakukan orang terdekat, orang asing, orang kaya, dan orang miskin, dengan cara yang adil.”

Menurut agama Islam, manusia adalah makhluk yang bebas sejak ia dilahirkan. Manusia sering kali disebut fitrah namun pada saat yang sama, manusia adalah hambanya. Karena manusia diciptakan oleh Allah SWT.

Jadi manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi budak bagi sesama manusia. Bila ini diabaikan, sama saja dengan melanggar hak Tuhan.

Ibnu Rusyd, seorang filsuf dan ahli fikih terkemuka juga mengatakan, jika kita menemukan ada sesuatu yang benar dari mereka (yang berbeda dari kita), maka kita sepatutnya menerima dengan gembira dan menghargai. Namun jika tidak sesuai, maka lebih baik kita ingatkan dan memaafkannya.

Bahkan di dalam Alquran pun menjelaskan betapa pentingnya bertoleransi antar sesama. Seperti terdapat pada surah Al-Kafirun yang berbunyi:

“Katakanlah hai orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk mu agamamu, untukku agamaku.”(QS Al-kafirun ayat 1 - 6),.

Dalam ayat tersebut menyebut betapa pentingnya toleransi. Apalagi Indonesia saat ini memasuki tahun-tahun politik, yang akan diselenggarakannya pemilihan umum yang akan menentukan presiden dan wakil presiden.

Karena itu, alangkah lebih baiknya, jika kita terus menyuarakan nilai-nilai kearifan lokal. Hal ini penting, agar kita tidak lupa akan sejarah dan budaya bangsa Indonesia. (*)

*) Aktivis Ikatan Keluarga Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS) Kalipuro.

Editor : Ali Sodiqin
#perilaku #bahasa #kolom #manusia #Sukorejo #Tuhan #Kehidupan #masa kini #toleransi #nabi muhammad saw