TANGGAL 16 Rajab tahun ini, Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-101 dalam hitungan kalender Hijriah.
Sementara dalam hitungan kalender Masehi, NU memperingati Harlah ke-98 tanggal 31 Januari lalu.
Berbicara NU, kita diingatkan kembali hubungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dan NU.
Pesantren Sukorejo didirikan tahun 1914 oleh KHR Syamsul Arifin, KHR As’ad Syamsul Arifin, dan keluarga lainnya yang berasal dari Madura.
Peran Pesantren Sukorejo terhadap pendirian NU dimulai sejak KHR Syamsul Arifin terlibat langsung dalam permusyawaratan para ulama di kediaman Kiai Mas Alwi, Surabaya.
Meski dalam permusyawaratan itu belum ada kesepakatan mendirikan jamiyah ulama, tetapi ikhtiar terus dilakukan para ulama.
Semisal memohon petunjuk melalui istikharah. Para ulama berbagi tugas. Ada yang mendatangi makbarah Wali Songo. Bahkan, ada yang diutus langsung ke Madinah menuju makbarah Nabi Muhammad SAW.
Peran Kiai Syamsul Arifin berlanjut kepada putranya yaitu KHR As’ad Syamsul Arifin.
Waktu itu, Kiai As’ad masih tercatat sebagai santri Syaikhona Kholil Bangkalan.
Beliau santri yang khusus dipercaya oleh Syaikhona Kholil untuk mengantarkan tongkat dan tasbih kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari Jombang.
Tongkat dan tasbih tersebut menjadi isyarat, bahwa Syaikhona Kholil merestui berdirinya jamiyah ulama.
Tak lama dari pemberian tongkat dan tasbih, akhirnya para ulama mendirikan NU.
Sewaktu NU resmi didirikan, Kiai Syamsul Arifin adalah salah satu ulama yang ikut menandatangani naskah pendirian NU.
Dalam kepengasuhan Kiai As’ad, Pesantren Sukorejo dipercaya menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama tahun 1983.
Di antara keputusan penting yang dihasilkan adalah diterimanya Pancasila sebagai asas tunggal.
Waktu itu juga dihasilkan Deklarasi Hubungan Islam dan Pancasila.
Peran Kiai As’ad sangat besar dalam menyelamatkan Pancasila dari oknum yang masih mempersoalkan.
Tak heran, jika Kiai Achmad Siddiq memberi pernyataan, seandainya Kiai As’ad tidak memiliki amal lain selain sukses Munas, itu sudah cukup menjadi bekal untuk hidup di akhirat.
Kepercayaan para ulama cukup tinggi terhadap Kiai As’ad. Tahun 1984, setahun setelah Munas, Pesantren Sukorejo di bawah asuhan Kiai As’ad kembali dipercaya sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-27.
Muktamar tersebut merupakan muktamar yang bersejarah dalam perjalanan NU.
Pada muktamar tersebut, NU berhasil kembali ke khittah.
Sembilan poin yang tertera dalam naskah khittah hasil muktamar tersebut, menjadi rujukan bagi warga Nahdliyin.
Muktamar NU juga menobatkan Kiai As’ad sebagai Ketua Tim Ahlul Halli wal Aqdi.
Beliau juga memiliki peran besar terpilihnya Rais Aam PBNU KH Achmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU.
Perhatian Kiai As’ad luar biasa terhadap NU, hingga beliau dengan tegas menyampaikan kepada santrinya, bahwa santri Sukorejo yang keluar dari NU jangan berharap berkumpul dengan beliau di akhirat.
Kepada santri yang pamit berhenti dari pesantren, agar berkhidmat di tiga hal yaitu pendidikan Islam, dakwah lewat NU, dan ekonomi masyarakat.
Ketika PBNU mengeluarkan Resolusi Jihad, Kiai As’ad tampil di garda depan dalam perjuangan.
Begitu juga dalam momentum pertempuran melawan penjajah. Termasuk dalam pemberantasan PKI.
Menjelang wafat, Kiai As’ad masih berusaha mewujudkan wasiat gurunya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yaitu mendirikan Ma’had Aly, lembaga kader ahli fiqih.
Dalam pendirian Ma’had Aly, Kiai As’ad melibatkan ulama-ulama di tanah air seperti KH Ali Maksum hingga ulama Makkah yang berpaham ahlussunnah wal jamaah yaitu Syaikh Yasin Al Fadani, Syakh Ismail, dan Sayyid Muhammad Al Maliki.
Perjuangan Kiai As’ad dilanjutkan putranya yaitu KHR Ach. Fawaid As’ad. Pada tahun 2003, Pesantren Sukorejo pernah menjadi tuan rumah Muktamar Pemikir NU.
Muktamar ini diikuti ratusan pemikir muda di lingkungan NU yang bertujuan mengeksplorasi pemikiran kaum muda NU.
Perhatian Kiai Fawaid terhadap pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin cukup besar.
Terutama dalam melestarikan ajaran maupun tradisi yang diwariskan pendahulunya.
Kiai Fawaid mencetuskan tiga kompetensi kepesantrenan yaitu bagaimana santri bisa membaca Alquran dan kitab dengan baik dan benar, serta memiliki akhlakul karimah.
Tiga kompetensi tersebut kemudian dijadikan persyaratan kenaikan maupun kelulusan setiap jenjang pendidikan di Pesantren Sukorejo.
Kiai Syamsul Arifin, Kiai As’ad, dan Kiai Fawaid, telah wafat.
Warisan dan wasiat perjuangannya tetap melekat. Selamat Harlah NU, saatnya kita memperbaiki niat dan kesungguhan berkhidmat. (*)
*) Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin