Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Idul Fitri Bukanlah Hari Kemenangan

Ali Sodiqin • Minggu, 28 April 2024 | 00:25 WIB
Oleh: SALMAN AKIF FAYLASUF *
Oleh: SALMAN AKIF FAYLASUF *

BANYAK masyarakat merayakan Idul Fitri dengan menyebutnya hari kemenangan.

Namun, hal ini merupakan sesuatu yang perlu diluruskan. Karena adanya salah pemahaman terhadap doa populer “minal aidin wal faizin”.

Lalu bagaimana sebenarnya makna yang benar dari doa ini? Mengapa penyebutan hari kemenangan dianggap kurang tepat?

Memang banyak sekali hal yang muncul setelah Rasulullah SAW, yang sifatnya baru.

Tentu, kita tidak ingin berkata bahwa semua yang baru itu terlarang. Kita tidak berkata pula kullu bid’atin dhalalah.

Tetapi di sisi lain, ada pengertian-pengertian yang muncul dalam masyarakat yang sudah populer, yang sebenarnya kalau kita merujuk kepada Alquran dan sunah Nabi, apa yang populer itu “minal aidin wal faizin kullu aam wa antum bi khair”.

Ini bagus walaupun tidak dikenal pada masa Nabi Saw. Karena pada masa Nabi ucapannya adalah “taqabbalallahu minna wa minkum”.

Namun, banyak masyarakat menamai Idul Fitri dengan hari kemenangan. Lalu kemenangan terhadap siapa?

Siapa yang Anda lawan, sehingga Anda mengumumkan bahwa Idul Fitri itu hari kemenangan?

Apakah menang melawan hawa nafsu atau melawan setan? Apakah benar demikian?

Kata Quraish Shihab, ini agaknya keliru. Orang-orang keliru memahami arti faizin dengan menang.

Padahal, perjuangan melawan nafsu dan setan, pertempuran itu berlanjut tidak ada hentinya, kecuali setelah kita mati.

Bisa jadi, Anda menduga diri Anda menang, padahal sebenarnya Anda sudah kalah.

Kenapa demikian? Karena setan paling pandai “memperindah yang buruk”. Sederhananya, kata Quraish Shihab, kita masih belum menang, melainkan masih dalam perjuangan.

Lalu kenapa Anda bilang hari kemenangan? Dalam hal ini, jangan pernah menduga bahwa Idul Fitri itu adalah hari kemenangan.

Karena kalau Anda mengatakan hari kemenangan, maka kemenangan itu akan menjadikan Anda berleha-leha, bahkan menjadikan Anda merasa bangga. Ia bukanlah hari kemenangan.

Sebenarnya, Rasulullah SAW mengajarkan doa “taqabbalallahu minna wa minkum” “semoga Allah Swt menerima doa dan ibadah kita”.

Jadi bukan kemenangan, melainkan doa. Sekalipun demikian, jangan pernah yakin bahwa amalan Anda sudah diterima Allah Swt.

Kalau kita tidak yakin seperti itu, berarti jangan yakin menang. Lalu kenapa jangan yakin?

Karena; “Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah. Maka persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut.”

Sementara itu ada ucapan yang lain “minal aidin wal faizin”. Ini juga doa.

Kita tahu, bahwa ajaran Islam adalah ajaran kebersamaan. Walaupun Anda salat sendirian akan tetapi kita diajarkan “iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in”. “Taqabbalallahu minna wa minkum”, dia tidak berkata “taqabbalallahu minni wa minka”.

Demikian juga “minal aidin wal faizin” “semoga kita termasuk kelompok orang-orang yang kembali kepada fitrah, dan semoga kita termasuk orang-orang al-faizin”.

Jika demikian, apalah al-faizin itu kemenangan? Kalau kita membuka lembaran-lembaran al-Qur’an, ada sekitar 20 kali kata fauz terulang.

Dari sini kita tahu, bahwa fauz adalah pengampunan dosa dan masuk ke dalam surga.

Jadi, ketika kita berkata “minal aidin wal faizin”, maka semoga kita termasuk kelompok orang yang diampuni Allah dan masuk ke surga. Jadi bukan hari kemenangan.

Ya begitulah. Sudah sangat banyak di masyarakat kita yang salah kaprah sejak semula.

Akibatnya, kalau kita menegurnya, dia akan bilang “oh itu salah”, padahal hal yang demikian tidak benar.

Kemudian ada yang menyebutnya Idul Fitri lagi dengan hari raya makan.

Memang, fithr itu artinya asalnya “membuka dan menampakkan”. Itu sebabnya, kita kalau puasa, pada saat mau makan dikatakan buka puasa (ifthar).

Tentu saja wajar ada yang bilang hari raya makan, karena itu masuk salah satu makna. Itu sebabnya pula, Idul Fitri dikaitkan dengan zakat al-fithr. Ada kaitannya dengan makan.

Akan tetapi, kesannya, kata Quraish Shihab, kalau dikaitkan dengan makan rasanya terlalu sepele.

 Justru lebih jelas dan bagus fithr dalam kaitannya dengan fitrah.

Artinya, orang yang berpuasa, diterima puasanya dan dihapus dosanya sebagaimana dia ketika dilahirkan pertama kali.

Fitrah adalah suci dan suci itu ada tiga unsurnya yaitu: baik, benar, dan indah.

Pertama, baik (al-khair). Adalah mencari yang baik dan melahirkan akhlak yang baik itulah suci.

Kedua, indah. Adalah mengekspresikan yang indah dan menghasilkan seni.

Ketiga benar. Adalah mencari yang benar dan menghasilkan ilmu.

Jadi, yang suci, selalu baik, benar, dan indah. Kita beridul fitri berusaha untuk menjadi baik, berusaha untuk benar (dan semua apa yang kita lakukan itu dilakukan dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan), serta semuanya menjadi indah.

Sehingga yang beridul fitri itu adalah ilmuwan, budiman dan seniman.

Tentunya, ini jauh lebih indah daripada mengatakan dan berkata hari raya makan. Wallahu a’lam bisshawaab. (*)

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Editor : Ali Sodiqin
#idul fitri #hawa nafsu #lebaran #alquran #quraish shihab #kemenangan #minal aidin wal faizin #ilmuan #keliru #Rasulullah SAW #hari raya #terlarang #Budiman #seniman #nabi muhammad saw