Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Menuju Manusia Indonesia sebagai Agen Antroposen

Ali Sodiqin • Sabtu, 18 Mei 2024 - 18:17 WIB
Oleh: AGIK NUR EFENDI*
Oleh: AGIK NUR EFENDI*

ANTROPOSENTRIS merupakan suatu konsep dari etika lingkungan yang berpandangan bahwa manusia sebagai pusat dari semuanya. Manusia menganggap, manusia adalah makhluk paling istimewa.

Jika dilihat, semua makhluk hidup bergantung pada lingkungan sekitarnya. Namun dengan cara pandang antroposentris, manusia hanya melihat alam sebagai sumber pemenuhan kebutuhan, mereka bebas mengeksploitasi alam.

Manusia dengan segala keserakahan, justru menjadi penyebab perusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi secara terus-menerus, merupakan salah satu faktor penyebabnya.

Yaitu adanya kekeliruan pandangan (paradigma) pembangunan yang mengacu pada etika antroposentrisme, bermula dari argumentasi Aristoteles dalam bukunya The Politics yang menyatakan “Tumbuhan dipersiapkan untuk kepentingan hewan.”

Kekeliruan pandangan bahwa manusia adalah pusat alam semesta dan hanya manusia yang mempunyai nilai, sedangkan alam dan segala isinya hanya sarana untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan hidup manusia. Hal ini menyebabkan manusia melakukan perilaku eksploitatif yang tidak berdasar.

Fenomena ini memunculkan suatu distopia. Hal ini merupakan suatu komunitas atau masyarakat yang tidak didambakan atau terkesan menakutkan.

Distopia dianalogikan sebagai "tempat buruk". Alam sekitar menjadi rusak karena berbagai aktivitas manusia yang konsumtif dan eksploratif.

Itu sebabnya diperlukan narasi tentang lingkungan. Pandangan antroposentris yang khas ini tidak memberikan kontribusi besar terhadap keharmonisan ekologi.

Dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam strategi pengelolaan lingkungan, kita dapat memanfaatkan kekayaan pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam mengatasi permasalahan lingkungan.

Hal ini membantu memastikan bahwa upaya konservasi sesuai budaya, adil secara sosial, dan efektif terhadap lingkungan.

Misalnya dalam menghadapi deforestasi, kearifan lokal dapat menjadi pedoman praktik kehutanan berkelanjutan yang mengutamakan kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Dengan memanfaatkan kearifan lokal, kita dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab di masyarakat, komunitas lokal, serta menciptakan komitmen bersama untuk melestarikan bumi bagi generasi mendatang.

Di dunia pendidikan, mengajarkan kelestarian bumi dan isinya tidak hanya menjadi peran guru Ilmu Pengetahuan Alam. Namun, peran ini sejatinya milik semua pihak.

Terlebih mulai dari stakeholder, dewan guru, siswa, hingga berbagai pihak terkait.

Dalam proses pembelajaran, peran ini dapat dilakukan setiap guru dengan mengintegrasikan urgensi lingkungan dalam setiap kompetensi atau tujuan pembelajaran. Salah satunya, mengintegrasikan pedagogi lingkungan.

Pendekatan ini mengakui keterhubungan antara manusia dan alam, serta menekankan pentingnya menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan memasukkan pedagogi lingkungan dalam kurikulum, pendidik dapat memberdayakan siswa untuk menjadi peserta aktif dalam mengatasi masalah lingkungan.

Mereka bisa membuat keputusan yang berkontribusi terhadap masa depan yang lebih berkelanjutan.

Penting juga untuk menumbuhkan generasi yang memiliki pengetahuan tentang sistem ekologi dan memiliki pemahaman mendalam tentang dampak tindakan mereka terhadap lingkungan.

Melalui pedagogi lingkungan, siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan belajar menganalisis permasalahan lingkungan yang kompleks.

Selain itu, pedagogi lingkungan dapat menumbuhkan rasa koneksi dan tanggung jawab terhadap alam.

Pendidikan lingkungan hidup sebagai solusi jangka panjang terhadap permasalahan lingkungan hidup memerlukan keterlibatan aktif dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk pendidik, pengambil kebijakan, komunitas, dan individu.

Upaya kolektif mereka dapat menciptakan sistem pendidikan lingkungan hidup yang komprehensif dan efektif yang mampu menjawab tantangan lingkungan hidup saat ini dan masa depan.

Untuk menjamin keberhasilan pendidikan lingkungan hidup, penting bagi pendidik untuk menerima peluang pengembangan profesional yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menerapkan pendekatan pembelajaran holistik.

Dalam skala global, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah merilis sebuah konstruksi penting untuk diukur dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 adalah sejauh mana pengetahuan anak usia 15 tahun tentang, peduli, dan mampu bertindak terhadap masalah lingkungan hidup sebagai hasil dari ilmunya pendidikan.

Dalam dokumen yang berjudul Agency in the Anthropocene: Supporting document to the PISA 2025 Science Framework menjelaskan kompetensi yang perlu dikuasai generasi muda tantangan lokal dan global di era pengaruh manusia terhadap planet bumi ini.

Lebih lanjut, PISA menetapkan bahwa agen antroposen ini menjadi target capaian survey yang akan dilakukan tahun 2025.

 Siswa diharapkan mampu bekerja secara individu dan kolektif, dengan harapan dan kemanjuran memahami beragam perspektif tentang sistem sosio-ekologis, dan untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan masa depan yang tangguh.

Kemampuan mengambil keputusan untuk bertindak bertanggung jawab terhadap diri sendiri, dan terhadap orang lain, merupakan ukuran keagenan di zaman Antroposen.

Misalnya, menunjukkan keagenan pada zaman Antroposen melibatkan refleksi pribadi pilihan gaya hidup dan menerapkan perubahan, mempengaruhi orang lain untuk berefleksi dan berubah, serta memberikan umpan balik terhadap pelestarian lingkungan. (*)

*) Dosen Tadris Bahasa Indonesia, IAIN Madura.

Editor : Ali Sodiqin
#alam #tanggung jawab #manusia #Antroposen #agen #indonesia #bumi #kearifan lokal