INDONESIA, dengan iklim tropisnya, telah lama menjadi daerah rawan demam berdarah. Namun, peningkatan signifikan dalam jumlah kasus dan kematian akibat penyakit ini akhir-akhir ini menimbulkan kekhawatiran serius.
Demam berdarah dengue (DBD) bukan lagi sekadar isu kesehatan musiman. Kini, ia telah menjadi ancaman kesehatan yang mengintai setiap saat sepanjang tahun, khususnya di Kabupaten Situbondo.
Data terbaru menunjukkan lonjakan yang mengejutkan dalam jumlah kasus demam berdarah di berbagai kecamatan di Kabupaten Situbondo.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, pada tahun 2024 hingga bulan Mei minggu ke-3 terdapat 592 kasus dengan 32% penderita adalah anak-anak usia 5-14 tahun. Bahkan, terdapat empat pasien yang meninggal dunia.
Faktor utama yang mendorong peningkatan ini adalah perubahan iklim yang menyebabkan curah hujan tidak teratur, memperpanjang musim perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, faktor utama penularan DBD.
Selain itu, urbanisasi yang cepat dan kurangnya pengelolaan limbah yang baik menciptakan lingkungan yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah tingginya angka kematian yang disebabkan oleh DBD. Banyak korban adalah anak-anak dan orang tua yang lebih rentan terhadap komplikasi penyakit ini.
Keterlambatan diagnosis dan penanganan medis yang tidak memadai sering kali menjadi penyebab utama kematian.
Salah satu penyebab peningkatan kasus ini adalah kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pencegahan DBD.
Kampanye kesehatan yang ada sering kali tidak mencapai semua lapisan masyarakat, terutama di daerah pedesaan dan terpencil.
Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tindakan pencegahan seperti penggunaan kelambu dan repelan nyamuk harus
Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan tindakan terkoordinasi dari berbagai pihak. Pemerintah harus memperkuat infrastruktur kesehatan, memastikan ketersediaan obat dan alat medis, serta mempercepat distribusi vaksin dengue yang kini mulai tersedia.
Selain itu, peningkatan kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting untuk memastikan implementasi kebijakan yang efektif.
Perlu adanya suatu inovasi baru yang efektif untuk mencegah berkembangnya ataupun menyebarnya DBD ini.
Seperti yang kita ketahui pencegahan seperti fogging dan semacamnya masih kurang efektif untuk mencegah dan mengurangi angka DBD yang ada.
Selain itu juga fogging dapat dikatakan sebagai pencegahan yang tidak ramah lingkungan.
Oleh karena itu, inovasi yang dibuat haruslah ramah lingkungan dan juga dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga pada akhirnya dibutuhkan kerja sama tidak hanya antar masyarakat bahkan juga antara teknologi dengan manusia itu sendiri.
Inovasi yang terpikirkan yang sangat relevan dengan situasi saat ini yaitu dengan penggunaan aplikasi mobile dan platform digital untuk pemantauan dan edukasi masyarakat mengenai DBD yang meningkat.
Di dalam aplikasi ini akan menunjukkan dan memberikan informasi yang tepat pada waktunya atau sesuai waktu kejadian mengenai daerah ataupun kawasan yang beresiko tinggi dan juga disertai dengan langkah - langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
Mengingat bahwa saat ini manusia tidak bisa lepas dari gadget sehingga diharapkan inovasi ini cukup efektif untuk menambah pengetahuan masyarakat terkait DBD ini.
Tentu tidak cukup dengan inovasi tersebut. Akan tetapi, masyarakat juga harus berperan aktif dalam upaya pencegahan.
Gotong royong dalam membersihkan lingkungan, pemberantasan sarang nyamuk, dan partisipasi dalam program-program kesehatan masyarakat sangat dibutuhkan.
Edukasi berkelanjutan melalui media massa dan sosial harus digalakkan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang DBD.
Peningkatan kasus dan kematian akibat demam berdarah di Situbondo adalah sebuah alarm yang tidak boleh diabaikan.
Ini adalah krisis yang memerlukan tindakan cepat dan efektif dari semua pihak. Pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat harus bersatu dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit ini.
Hanya dengan kerjasama yang kuat, kita dapat mengendalikan penyebaran demam berdarah dan menyelamatkan nyawa. Sudah saatnya kita bertindak, sebelum terlambat. (*)
*) Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya.
Editor : Ali Sodiqin