Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Klasifikasi Kebenaran

Ali Sodiqin • Jumat, 21 Juni 2024 | 23:00 WIB
Oleh: MAULANA HAMID*
Oleh: MAULANA HAMID*

MANUSIA merupakan salah satu makhluk hidup yang memiliki jiwa sempurna di antara makhluk lainnya. Terbukti realitasnya dapat melakukan teknik berpikir secara proporsional.

Pada hakikatnya, manusia telah dianugerahi akal dan nafsu oleh sang pencipta.

Jika dimanfaatkan dengan baik, maka akan menumbuhkan Insan yang relevan dengan malaikat.

Atau sebaliknya, digunakan pada hal-hal buruk maka akan tercipta insan berhati Setan. Bahkan bisa lebih arogan daripada binatang.

Berbicara tentang manusia pasti ada makna atau problem yang sulit dipecahkan, terutama dari segi mengaplikasikan akal. Akal tidak akan mudah untuk menggali suatu kebenaran apabila objeknya masih ambigu.

Mencari kebenaran, prosesnya relatif membutuhkan waktu yang cukup lama. Apalagi terhadap kajian literatur yang memerlukan beberapa instrumen sebagai alat untuk mempermudah jalannya.

Perlu diketahui, kebenaran ialah pernyataan yang menentukan keabsahan dari suatu pertanyaan atau perasaan ingin tahu terhadap segala sesuatu.

Dalam kejayaan filsafat pada masa sebelum Masehi, banyak ahli pemikir rasional berdebat tentang meneliti suatu kebenaran. Dari hasil pemikirannya timbul beberapa pemahaman atau sifat secara signifikan.

Signifikasi pemikirannya bertahan hingga saat ini. Di antaranya positivisme, fenomenologi atau interpretatif, empirisme, hermeneutika, dan lain sebagainya.

Bahkan dalam penelitian perlu digunakan sebagai bahan pendukung untuk menggali permasalahan secara komprehensif.

Maka, mengutip buku metode penelitian Fikih dan Ekonomi Syariah karya Dr. KH. Nawawi MAg terdapat kajian tentang klasifikasi kebenaran. Kebenaran dibagi menjadi dua macam; Kebenaran Non-ilmiah dan Ilmiah.

Pembahasan mengenai kebenaran Non-Ilmiah tentu memiliki beberapa implikasi sebagai berikut; kebenaran wahyu, kebenaran ilhami, secara kebetulan, akal sehat, coba-coba, dan otoritas. Artinya tidak harus melalui metode penelitian atau pengujian mendalam.

Karena metodologi yang dipakai relevan dengan dunia religius. Salah satunya ialah kebenaran wahyu.

Kebenaran wahyu adalah suatu pernyataan yang diturunkan oleh Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia. Maksudnya mencakup segala aturan dan norma yang berlaku dalam Islam. Tentu ada perbedaan antara Syariah dan Fikih.

Menurut Philips (2002:2), Syariah dan Fikih memiliki perbedaan yang sangat mendasar, yaitu: pertama, Fikih yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah.

Sementara Fikih adalah galian dari Syariah untuk menjawab persoalan tertentu. Artinya bahwa dari keduanya mengandung nilai-nilai kebenaran mutlak. Dikatakan mutlak karena langsung ditetapkan oleh Allah SWT.

Meskipun dari segi Fiqh masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Kajiannya termaktub dalam kebenaran akal sehat.

Meneliti kebenaran tak hanya melalui garis vertikal. Akan tetapi, perlu menguji secara eksplisit bagaimana output-nya meyakinkan.

Pastinya harus berasal dari hasil penelitian melalui prosedur dan beberapa tahapan. Artinya, masuk ke dalam klasifikasi kebenaran ilmiah.

Untuk mendapatkannya diperlukan metode ilmiah yang berdasar sifat ilmu pengetahuan.

Metode-metodenya harus berlandas pada tiga konsep, yaitu objektivitas, reliabilitas, dan validitas.

Menurut ahli filsafat, ada tiga teori yang bisa dijadikan sandaran dalam menentukan kebenaran, yaitu teori koheren, teori koresponden, dan teori pragmatis.

Mengkaji kebenaran ilmiah, para mahasiswa pasti akan mengalaminya di penghujung semester.

Mahasiswa memperoleh tugas penelitian sebagai tugas untuk memenuhi komponen Skripsi. Terdapat dua metode penelitian, berupa kualitatif dan kuantitatif.

Metode kualitatif bertujuan menjelaskan suatu penelitian yang menghasilkan data secara deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari objek yang diamati.

Sedangkan penelitian kuantitatif, secara umum digunakan untuk menguji suatu teori, menyajikan fakta, memaparkan statistik, dan menjelaskan variabel sebab-akibat. Esensinya, bagaimana lebih mengutamakan angka daripada tulisan. (*)

*) Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Universitas Ibrahimy, Sukorejo, Situbondo.

Editor : Ali Sodiqin
#syariah #setan #ekonomi #manusia #ulama #Malaikat #nafsu #Fikih #kajian