Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Menyulap Limbah Kerang dan Udang Jadi Slow Release Fertilizer

Ali Sodiqin • Jumat, 26 Juli 2024 | 21:39 WIB
Oleh: RISNA INDRA RAVITA SARI*
Oleh: RISNA INDRA RAVITA SARI*

KERANG dan udang telah menjadi lauk pauk bagi manusia. Selain rasanya yang enak, kandungan gizi yang ada pada udang dan kerang, menjadikan dua bahan lauk ini menjadi salah satu bahan baku makanan yang digemari masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Meskipun di lapangan, kenyataannya ada orang yang tidak bisa mengonsumsi dua binatang air tersebut. Penyebabnya karena alasan alergi atau sebab lainnya.

Sementara itu, kebanyakan ibu rumah tangga atau pun tempat makan hanya mengambil daging dari udang dan kerang tersebut.

Sedangkan bagian lain seperti kepala udang, kulit udang, dan cangkang kerang, mayoritas dibuang begitu saja. Hanya sebagian kecil saja yang diolah kembali.

Dari hasil literatur didapatkan, bahwa secara umum, kulit udang ternyata mengandung 27,6 persen mineral, 34,9 persen protein, 18,1 persen kitin, serta komponen lain. Seperti zat terlarut, lemak dan protein tercerna sebesar 19,4 persen.

Dengan proses de-asetilasi, dari kitin tersebut dapat diperoleh kitosan. Jadi di dalam udang dan kerang mengandung kitosan, yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk.

Melihat manfaat tersebut, sebenarnya ada peluang untuk berinovasi dalam memanfaatkan kulit udang dan kerang untuk menjadi sebuah pupuk yang ramah lingkungan.

Inovasi tengah dibuat oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat Stikes Banyuwangi.

Tim mencoba untuk mengolah kulit udang dan kerang menjadi sebuah pupuk slow release. Bahan utamanya yakni kitosan itu sendiri. Ada pula bahan lain sebagai tambahan seperti glutaraldehid, yang biasa digunakan sebagai agen pengikat silang, karena dapat meningkatkan kestabilan kitosan dengan membentuk senyawa perantara.

Proses pengolahan pupuk ini bisa dibilang tidak memerlukan tahap yang sangat panjang. Tahap pertama tentunya mempersiapkan alat dan bahan. Kemudian masuk ke tahap ekstrasi kitosan dari limbah kerang dan udang.

Selanjutnya, tahap pembuatan larutan kitosan 0,2 persen dilanjutkan dengan tahap pembuatan pupuk lepas lambat, dengan campuran kitosan yang ditambah glutaraldehid. Cara pembuatan pupuk ini sangat mudah.

Untuk alatnya bisa menggunakan perabotan seperti gelas, baskom, timbangan, pengaduk, sendok, gelas takar, saringan, dan oven.

Alurnya dimulai dari limbah kerang dan udang dicuci bersih. Kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Setelah itu, dilakukan penghancuran atau penggilingan dengan alat penggiling lumpang kayu hingga menjadi serbuk. Serbuk dilarutkan dengan asam asetat, kemudian disaring.

Kitin yang diperoleh dicuci untuk menghilangkan asam, lalu dikeringkan dengan oven pada suhu rendah. Jika sudah kering, kitosan yang diperoleh disimpan.

Untuk penggunaannya, pupuk urea dicampur dengan matriks kitosan dengan perbandingan berat pupuk urea dengan matriks yaitu tujuh banding tiga (7:3). Kemudian diaduk selama empat jam dan dikeringkan.

Proses pengaplikasian pupuk sangat mudah seperti pupuk pada umumnya, tetapi takarannya berbeda. Karena pupuk slow release fertilizer mempunyai kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan pupuk yang lain. Kelebihan pupuk slow release fertilizer yaitu tidak mudah larut terbawa air (ada kitosan).

Unsur hara lebih banyak terserap (tidak banyak hilang terbawa air). Serta keberadaannya lebih tahan lama dan dibutuhkan hanya sedikit pupuk dan pemupukan lebih efisien.

Adanya inovasi ini tentunya sangat membantu para petani atau pun masyarakat yang membutuhkan.

Selain akan membantu meringankan biaya operasional dalam memenuhi kebutuhan pupuk, juga akan mencegah pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk berbahan kimia.

Mahasiswa sendiri juga tengah mencoba mengedukasi olahan ini kepada masyarakat di Dusun Tegalpare, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Selain di sana terdapat banyak limbah kerang dan udang, masyarakat setempat juga merasa adanya kelangkaan pupuk kimia yang mahal.

Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat tidak hanya diberi materinya. Melainkan juga dibekali praktik langsung dalam mengolah limbah udang dan kerang menjadi pupuk.

Harapannya, dengan adanya pengabdian masyarakat ini, masyarakat setempat data lebih memanfaatkan limbah yang ada menjadi produk yang dapat digunakan, dan tentunya memiliki manfaat yang baik untuk wilayahnya.

Tidak hanya menekan pencemaran lingkungan, namun olahan produk yang dihasilkan memiliki nilai jual. Tentu saja, ini bisa menjadi bahan pemasukan tambahan bagi masyarakat. Hasilnya, hasil tani bagus, perekonomian meningkat, lingkungan nyaman dan bersih, serta masyarakat dapat hidup sehat. (*)

*) Ketua PKM PM Stikes Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#limbah #kerang #ekstrasi kitosan #udang