Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Metode Jibril, Langkah Solutif Belajar Baca Alquran

Ali Sodiqin • Selasa, 27 Agustus 2024 | 15:42 WIB
Oleh: IRSAN AL PANCORANY*
Oleh: IRSAN AL PANCORANY*

UMAT Islam didoktrin untuk membaca Alquran dengan tartil, indah, baik, dan benar. Untuk mencapai hal itu harus belajar.

Belajar Alquran harus memilih guru yang telah menguasai dan memiliki metode yang baik dalam mengajar Alquran.

Karena metode sangat berpengaruh kepada pemahaman murid dalam belajar Alquran, dalam konsep atau kurikulum mengajar Alquran ada beberapa sistem yang harus dikuasai guru.

Guru harus memiliki sumber daya mengajar. Artinya, guru harus memiliki kemampuan membaca Alquran dengan tartil, indah, baik, dan benar.

Sistem klasikal dalam arti murid tidak maju satu per satu dalam belajar Alquran.

Murid harus belajar serentak agar mendapatkan waktu dan ilmu yang sama dalam belajar, metode yang bagus, karena metode yang bagus sangat berpengaruh dalam mempercepat pemahaman bacaan murid, dan sistem control seorang guru memiliki kewajiban mengontrol murid bacaannya, sejauh mana murid telah memahami dan menguasai bacaan yang telah dipelajari.

Yang akan kita bahas pada pembahasan kali ini tentang metode Jibril. Nama metode Jibril sangat tidak asing di kalangan santri dan alumni Pesantren Ilmu Al Qur’an (PIQ) Singosari, Malang.

Nama metode ini diberikan langsung oleh pendiri dan pengasuh pertama PIQ, Alm Syaikhona Abuya KHM Basori Alwi Mortadho. Beliau pemegang sanad Alquran ke 31 menurut riwayat Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim.

Beliau menamai metode ini mengambil atau istilahnya tabarrukan kepada guru pertamanya Alquran ialah malaikat Jibril As, ketika pertama kali menyampaikan wahyu kepada murid sejatinya Baginda Nabi Muhammad SAW.

Inti yang paling urgen dalam pembelajaran metode Jibril yakni mengulang-ulang atau mentakrir bacaan Alquran yang diajarkan guru kepada murid, maksimal tiga kali pengulangan secara tartil.

Sebagaimana tertulis dalam sejarah Islam, ketika malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara mentakrir sebanyak tiga kali.

Dengan mentakrir bacaan Alquran yang dicontohkan langsung oleh guru kepada murid, jika guru yang menjadi contoh itu baik bacaannya atau mujawwid, maka murid pun akan menjadi mujawwid pula bacaannya.

Metode Jibril sangat relevan dengan firman Allah SWT yang tercantum dalam kitab suci Alquran yang artinya: “Apabila telah selesai kami baca {yakni Jibril membacanya} maka ikutilah bacaannya”.

Dalam pembelajaran tartil menggunakan metode Jibril, maka kita akan menemukan istilahnya rumus mendengarkan, melihat, dan menirukan.

Atau simpelnya bisa dikenal dengan istilah “3M”. Pada rumus 3M tersebut, kita akan mudah mempelajari dan memahami bacaan Alquran dengan bacaan tartil.

Sebelum memasuki pembelajaran metode Jibril dengan rumus 3M dengan bacaan tartil, alangkah lebih baiknya kita jelaskan apa itu tartil terlebih dahulu.

Dijelaskan dalam Alquran yang artinya: “Dan tartilkanlah Alquran itu dengan sungguh-sungguh tartil”.

Sayyidina Ali pernah mengatakan mengenai tartil: “Tartil itu adalah memperbagus baca huruf (huruf-huruf Alquran) dan mengetahui waqof-waqof (di mana harus atau boleh berhenti dan harus atau boleh memulai lagi)”. 

Sudah jelas, firman dan perkataan Sayyidina Ali bahwa dalam belajar Alquran, kita didoktrin untuk belajar dengan metode tartil. Dan biar lebih paham lagi mengenai rumus 3M, mari kita bahas dengan terperinci.

M yang pertama yaitu mendengarkan. Mendengarkan sangat berpengaruh bagi murid, sebagaimana Nabi ketika mendapatkan wahyu.

Beliau menggunakan pendengarannya dalam belajar Alquran. Mendengarkan guru membaca Alquran kita sebagai murid harus memfungsikan pendengaran telinga dalam belajar.

Karena pendengaran telinga sangat urgen menangkap bacaan guru. Huruf demi huruf, dan kata demi kata, agar mengetahui bacaan guru spesifik dalam ilmu makharijul khurufi atau tempat-tempat keluarnya huruf.

M yang kedua yaitu melihat. Kita sebagai murid harus benar-benar melihat, bagaimana cara guru melafadkan huruf demi huruf dan kata demi kata Alquran.

Yang harus kita lihat sebagai murid, cara lisan guru melafadkan huruf-huruf Alquran, spesifik ilmu makharijul khurufi.

M yang ketiga, barulah kita menirukan. Menirukan apa yang telah kita dengar, dan menirukan yang telah kita lihat dari bacaan guru.

Pembahasan kita akhiri dengan kata mutiara Baginda Nabi Muhammad SAW: “Sebaik baiknya manusia ialah yang belajar Alquran dan mengajarkannya”. (*)

*) Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

Editor : Ali Sodiqin
#baca Al Quran #Al Qur'an #alquran #belajar baca #metode #tartil #jibril