KURIKULUM Merdeka yang sekarang sudah menjadi Kurikulum Nasional, artinya setiap Satuan Pendidikan di Indonesia sudah menerapkan Kurikulum Merdeka.
Dalam Kurikulum Merdeka ada yang sangat esensial yang melekat dengan tugas seorang guru, adalah membuat Modul Ajar sesuai dengan bidang yang diampu. Oleh karena itu, setiap ada workshop, bisa dipastikan materi membuat Modul Ajar akan ada. Dari beberapa proses dan hasil untuk menghasilkan modul ajar yang sesuai dengan harapan memang gampang-gampang susah.
Dikatakan gampang karena sudah banyak contoh inspiratif dari Platform Merdeka Mengajar (PMM); narasumber diklat, bimbingan teknis (bimtek), pelatihan, workshop, webinar; YouTube, Google, dan lain-lain. Para guru tinggal menggunakan jurus N3 atau ATM. Dikatakan N3, guru melakukan dengan cara; Niteni, Nirokke, Nambahi.
Dikatakan Nambahi bila contoh modul ditambah beberapa hal sesuai kebutuhan peserta didik di satuan pendidikan. Dikatakan ATM, dengan cara Amati, Tiru, Modifikasi. Guru dapat melakukan modifikasi dengan menambah atau mengurangi sesuai kondisi di setiap satuan pendidikan.
Dikatakan susah karena dengan cara N3 maupun ATM hasilnya jauh panggang dari api. Betapa tidak. Paling tidak terjadi tiga hal yaitu:
Pertama, terdapat kesalahan redaksional ringan, sedang, berat.
Kedua, terdapat ketidaksesuaian isi modul ajar dengan kebutuhan peserta didik.
Ketiga, terdapat ketidak-nyambungan antara tujuan pendidikan dengan: langkah-langkah kegiatan; Asesmen; dan media pembelajaran. Kenyambungan antara tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, asesmen, dan media pembelajaran menjadi penting. Bahkan sangat amat penting. Mengapa penting?
Agar dapat mencari solusi permasalahan, kita awali dengan pertanyaan pemantik. Mengapa secara umum Capaian Pembelajaran (CP) tidak dapat digunakan langsung untuk menyusun modul ajar? Karena kompetensi CP terlalu umum dan abstrak.
Bagaimana agar CP dapat digunakan untuk menyusun modul ajar? CP harus di-breakdown, diedel-edel, diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP).
Mengapa CP harus diturunkan menjadi TP? Karena kompetensi TP, konkret dan operasional.
Mengapa kompetensi TP harus konkret dan operasional? Agar mudah diukur dan diobservasi.
Apanya yang diukur dan diobservasi? Yaitu hasil belajar atau perubahan kompetensi.
Bagaimana ciri-ciri tujuan pembelajaran? Ciri-cirinya antara lain: 1) Dalam Kurikulum Merdeka, minimal terdiri atas kompetensi dan konten. 2) Dapat juga menggunakan tumus ABCCD, yaitu A = Audiens (peserta didik, murid, siswa), B = Behavior = Kompetensi, C1= Conditions _ (model, strategi, metode), C2 = Content (Konten, materi, ruang lingkup materi, substansi), D = Degree (Derajat, karakter, nilai, sifat). 3) Hanya memiliki satu kompetensi. 4) TP kunci, utama dapat dikembangkan menjadi TP Pendukung dan TP Pengembangan.
Tujuan pembelajaran kunci atau utama memiliki beberapa ciri, yaitu: Memiliki kompetensi yang konkret dan operasional dari capaian pembelajaran. Level kompetensi TP sesuai level kompetensi CP. Kompetensi TP Kunci atau Utama harus dicapai melalui pembelajaran. Kompetensi TP Kunci atau Utama dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi kelas.
Tujuan pembelajaran pendukung memiliki beberapa ciri, yaitu: Membantu peserta didik mencapai TP Kunci atau Utama. Disebut juga sebagai tujuan prasarat agar dipelajari untuk mencapai tujuan pembelajaran utama. Kompetensi TP pendukung di bawah kompetensi TP Kunci.
Tujuan pembelajaran pengayaan memiliki beberapa ciri, yaitu: Kompetensi TP Pengayaan di atas kompetensi TP Kunci atau Utama. Keberadaan TP Kunci atau utama tidak selalu ada.
Mengapa demikian? Guru dapat mengembangkan TP Kunci atau Utama bila di dalam kelas terdapat peserta didik kompetensinya lebih tinggi dari kompetensi rata-rata kelas.
Siapa yang tahu kalau ada peseta didik yang kompetensinya di atas rata-rata kelas? Yang paling tahu adalah guru mapel atau guru kelasnya.
Siapa yang berhak menentukan adanya TP Pengayaan? Tidak lain adalah guru bersangkutan.
Bagaimana mem-breakdown tujuan pembelajaran menjadi modul ajar? Atau, bagaimana mengembangkan modul ajar dari tujuan pembelajaran? Jangan lelah bekerja dengan ikhlas, karena kita tidak pernah tahu, amaliah ikhlas yang mana Allah SWT ridho. (*)
*) Kepala SMA Negeri 1 Besuki, Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin