Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Sentuhankan Teknologi Digital Bagi Santri Era Modernisasi

Ali Sodiqin • Kamis, 12 September 2024 | 17:04 WIB
OLEH: SRI WAHYUNI*
OLEH: SRI WAHYUNI*

SANTRI, sering diidentikkan dengan sebutan pelajar atau murid yang kurang melek teknologi atau “gaptek.” Munculan stigma tersebut tentu sudah menjadi konsumsi bagi santri yang bernaung di dalam pondok pesantren. Melihat model dan metode pembelajaran di pondok pesantren yang masih terlihat begitu tetap mempertahankan sistem ketradisionalannya seperti pembelajaran kitab kuning, sorogan dan badongan.

Mengenal istilah pesantren sendiri berasal dari kata “santri” yang berarti orang yang mendalami ilmu agama Islam. Mengenal sosok santri sendiri tentu sudah tidak asing lagi di telinga, ya salah satu elemen bangsa bersejarah yang pernah ikut berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Banyak sejarah mengungkapkan tentang kisah heroik santri sebagai garda terdepan (resolusi jihad) dalam memperjuangkan bangsa ini. Jihad para santri saat ini semakin kompleks jika dulu berjihad melawan penjajah, sekarang jihad santri adalah berjihad intelektual. Selain mempelajari ilmu keislaman (tafaqquh fi al-din), santri juga diharapkan mampu memiliki keleluasaan cakrawala dalam ikut serta memanfaatkan teknologi.

Pentingnya peran santri untuk tetap “up to date” melek teknologi dalam menjawab tantangan zaman yang semakin berkembang. Walaupun sebenarnya kehadiran teknologi digital awalnya tidak begitu diterima di lingkungan pondok pesantren yang notabene akan memberikan dampak buruk bagi santrinya.

Dengan ditetapkannya Hari Santri Nomor 22 Tahun 2015 sebagaimana diperingatinya hari santri setiap tanggal 22 Oktober dan dengan diperkuatnya peraturan Presiden (Perpres) UU 18 Tahun 2019 tentang pesantren. Ini menjadi bukti bahwa keberadaan pesantren sudah semakin di terima bahkan dijunjung tinggi oleh pemerintah. Pemerintah sangat berharap santri milenial untuk bisa mempertahankan semangatnya dalam memperjuangan intelektualnya dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.

Pemerintah sangat berkontribusi dalam memberikan pengajaran digital di pondok pesantren seperti halnya yang sudah dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika RI serta Siberkreasi yang menggelar seminar “Ngaji Literasi Digital” di salah satu pondok pesantren di Banyuwangi. Hadirnya literasi digital tidak lain demi meningkatkan mutu pendidikan pesantren di Indonesia dalam ikut serta dalam memanfaatkan teknologi. Seperti halnya sebagai sarana sumber belajar santri dalam pembelajaran di pondok pesantren, mempermudah akses informasi pelacakan referensi terpercaya di ruang digital, dan literasi digital membantu santri untuk mempersiapkan kegiatan pembelajaran daring dan luring di pondok pesantren yang berbasis perguruan tinggi.

Dengan datangnya teknologi ke lingkungan pesantren sangat membawa dampak pada pola pendidikan dan pola relasi antara hubungan pesantren dengan lingkungan masyarakat. Selain alasan efisiensi dalam belajar, akses informasi yang luas, dunia digital memang menjadi sarana baru bagi pesantren dalam menyampaikan ide, gagasan dan pendapat keagamaan. Hadirnya teknologi digital mengubah metode pembelajaaran di pesantren jika dulu menggunakan muwajjahah (face to face/tatap muka), kini metode berkembang dengan tradisi googling and face to screen.

Peran Kyai sangat dominan dalam pembentukan siber terhadap ajaran Islam yang selaras dengan nilai-nilai pesantren dan kearifan lokal masyarakat. Peran yang dapat diambil adalah menggalakkan literasi digital yang bermakna amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kebaikan dan meninggalkan keburukan). Literasi digital dihadirkan untuk memberikan variasi pada sistem pembelajaran demi meningkatkan kualitas pendidikan. Literasi digital dapat dimanfaatkan santri sebagai sarana dakwah di media masa sebagai pengamalan hasil pembelajarannya di pesantren. Upaya ini tidak lain untuk memfilter informasi yang keliru dan dapat membentengi tradisi Ahlussunah wal Jama’ah dari gempuran unsur-unsur penyimpangan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Oleh karena itu santri diharapkan mampu berfikir kritis, kreatif, komunikatif dan mampu berkolaborasi dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang. Pentingnya memanfaatkan literasi digital bagi santri milenial. Santri dituntut tidak hanya faham agama tetapi santri juga di tuntut untuk bisa ikut berperan dalam memanfaatkan media masa di era modernisasi.

*) Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia IUMSYA (Universitas KH. Mukhtar Syafa’at) Blokagung Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#pondok pesantren #gaptek #teknologi digital #literasi #metode pembelajaran #santri