RADARSITUBONDO.ID - Istilah "baper" atau "bawa perasaan" semakin sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kata ini ada penjelasan yang menarik dari sudut pandang psikologi dan ilmu saraf.
Orang yang mudah baper biasanya sangat sensitif karena faktor genetik. Jumlah serotonin, yang merupakan zat kimia yang membantu mood, cenderung rendah pada mereka. Ini membuat mereka sulit untuk mengatur perasaan negatif.
Selain itu, tingkat hormon stres mereka juga cenderung lebih tinggi, menyebabkan mereka lebih gampang merasa emosional dan peka terhadap hal-hal di sekitar.
Serotonin dikenal sebagai zat yang membuat kita merasa bahagia, dan itu sangat penting untuk mengatur suasana hati. Ketika kadarnya rendah, orang sulit untuk menjaga emosi mereka tetap stabil.
Baca Juga: Membaca Terlalu Dekat Bahaya untuk Mata Anak! Berikut 5 Tips Ampuh Mengatasinya
Salah satu alasan seseorang sering merasa baper adalah karena mereka mengambil hal secara pribadi dan terlalu memikirkan tindakan orang lain.
Selain itu, ada juga faktor psikologis seperti merasa menjadi korban, terlalu mencintai seseorang hingga menjadi terlalu tergantung, cara pandang yang salah sehingga menganggap lelucon sebagai hal serius, memiliki banyak masalah yang membuat mereka merasa emosional, serta sering membayangkan kejadian buruk yang belum terjadi.
Baca Juga: One Piece Episode 1146 Ditunda? Berikut Jadwal Rilis Terbaru & Alasan Penundaannya
Menariknya, baper punya dua sisi yang berbeda. Orang yang baper biasanya sangat penyayang dan peduli, karena mereka selalu merasakan dengan hati dan memperhatikan hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Namun, jika terlalu berlebihan, baper bisa jadi buruk karena membuat seseorang lebih mudah merasa stres dan depresi. Mereka mudah tersinggung dan bisa merasa sakit hati, sehingga sulit untuk merasakan kebahagiaan karena harapan yang tinggi tidak selalu sesuai dengan kenyataan, dan sering kali berlarut-larut dalam kesedihan.
Baca Juga: SMKN 2 Situbondo Sabet Juara 1 Story Telling Jatim, Siswa Dapat Golden Tiket ke Unesa!
Baper bukan sekadar masalah karakter yang lemah, tetapi merupakan kombinasi rumit dari faktor genetik, neurologis, dan psikologis. Dengan memahami penyebabnya, seseorang bisa lebih bijaksana dalam mengelola perasaannya.
Editor : Ali Sodiqin