Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kenapa Puasa Waktu Kecil Terasa Lebih Seru? Ini Alasannya

Bayu Shaputra • Minggu, 22 Februari 2026 | 16:30 WIB

Ilustrasi anak-anak belajar berpuasa.
Ilustrasi anak-anak belajar berpuasa.

RADARSITUBONDO.ID - Ramadan selalu menghadirkan rasa yang berbeda di setiap fase kehidupan. Bagi banyak orang, kenangan puasa masa kecil menjadi memori yang sulit dilupakan. Saat itu, bulan suci terasa seperti festival panjang yang penuh keajaiban.

Momen dibangunkan untuk sahur dengan mata setengah terpejam, menghitung waktu menjelang azan maghrib sambil terus melirik jam dinding, hingga euforia berbuka dengan kurma dan segelas es sirup yang terasa begitu istimewa, menjadi bagian dari cerita yang membekas kuat. Setiap detik terasa spesial dan dinanti.

Namun, suasana tersebut berubah ketika memasuki usia dewasa. Perbedaan paling mencolok terletak pada tanggung jawab.

Jika dulu puasa adalah pencapaian pribadi yang dirayakan keluarga, kini Ramadan harus dijalani di tengah tuntutan pekerjaan, urusan rumah tangga, serta berbagai target dan tenggat waktu. Energi tak lagi sepenuhnya tercurah pada kegembiraan sederhana, seperti bermain bersama teman sambil menunggu waktu berbuka.

 Baca Juga: Neymar Buka Peluang Pensiun Usai Piala Dunia 2026

Persepsi terhadap waktu pun mengalami pergeseran. Saat kecil, satu hari puasa terasa panjang, tetapi dijalani dengan penuh antusiasme. Kini, hari-hari Ramadan kerap berlalu cepat dalam rutinitas yang padat. Tak terasa, bulan suci datang dan pergi begitu saja.

Selain itu, ekspektasi juga berubah. Anak-anak berpuasa dengan motivasi sederhana: ingin mendapat pujian, menerima THR, atau membuktikan diri sudah cukup dewasa. Tidak ada beban spiritual yang rumit.

Sementara ketika dewasa, puasa dijalani bersamaan dengan refleksi mendalam—mengevaluasi kualitas ibadah, memperbaiki diri, bahkan terkadang muncul rasa belum maksimal dalam menjalankannya.

 Baca Juga: Magang Kemensetneg Kuartal II 2026 Dibuka untuk SMK hingga S1

Meski demikian, perubahan ini bukan berarti Ramadan kehilangan makna. Justru kedewasaan menghadirkan pemahaman yang lebih dalam tentang esensi puasa.

Ramadan tak lagi sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi ruang untuk melatih empati, kesabaran, dan memperkuat spiritualitas.

Vibes-nya memang berbeda dibanding masa kecil. Namun, di balik tanggung jawab dan kesibukan yang menyertai, makna Ramadan saat dewasa justru terasa lebih kaya dan mendalam.

Editor : Ali Sodiqin
#Kenangan puasa dimasa kecil