RadarSitubondo.id – Memiliki istri lebih dari satu ternyata tak selalu harus mensyaratkan bergelimang harta.
Setidaknya ini dialami oleh Busairi, warga Dusun Polay, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Situbondo.
Pria 50 tahun itu memiliki dua istri yang hidup rukun dalam satu atap. Padahal, ekonominya kurang mampu bahkan tidak punya pekerjaan tetap.
Jawa Pos Radar Situbondo mencoba bisa bertatap muka langsung dengan Busairi dan dua istrinya, Senin (23/9).
Namun Busairi dan Bhuna, 40, istri mudanya sedang keluar rumah. Sehingga hanya bisa bertemu dengan Salihati, 40, istri tua Busairi.
“Suami saya dan istri mudanya tidak ada, sudah lima hari tidak pulang, bermain ke rumah istrinya di Desa Krucil, Probolinggo,” ujar Salihati sambil tersenyum malu.
Sambil menahan tawa, Salihati mengaku sudah kurang lebih 20 tahun hidup bersama dengan Busairi. Namun, belum dikaruniai keturunan. Itulah, yang menjadi alasan Busairi harus beristri dua, dan hidup dalam satu rumah.
“Mulanya suami pamit pada saya untuk beristri lagi, alasannya ingin punya anak, itu saya izinkan. Saya, suami dan istri mudanya hidup bersama sudah tiga tahun,” kata Salihati.
Dikatakan, selama ketiganya hidup bersama, bisa dikatakan hampir tidak ada pertengkaran. Meskipun ada, namun hanya persolan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Itu semua dianggap sebagai bumbu dalam kehidupan berumah tangga.
“Tengkar juga, namanya hidup satu rumah. Kalau pekerjaan tiap hari bagi-bagi, kalau saya cari rumput, itu (istri muda) memasak. Nanti saya dan suami pulang ya makan bertiga,” cetus Salihati.
Kata dia, urusan pembagian uang belanja juga dibagi rata. Jika Busairi dapat Rp 50 ribu langsung dibagi dua.
Andai penghasilan dalam bekerja hanya dapat Rp 10 ribu langsung dibuat membeli lauk-pauk untuk dimakan bersama.
“Kadang saya kerja juga, itu (istri muda) juga kerja. Uangnya tetap untuk dimakan bersama,” tegas Salihati.
Urusan nafkah batin juga tidak menjadi hal yang direbutkan dalam rumah tanga Busairi. Busairi membagi waktu dengan adil. Dua malam dengan istri tua dan dua hari tidur dengan istri muda.
“Sama saya dua malam, sama istri mudanya dua malam. Bagi saya terserah, mau tidur di mana saja,” kata Salihati kepada jurnalis Radar Situbondo disaksikan oleh dua mertuanya.
Jumina, 60, ibu Busairi mengaku terharu dengan Salihati yang masih setia dengan Busairi. Bahkan, Salihati rela ikut bersama suaminya.
Namun, Salihati menolak untuk hidup satu rumah di rumah istri muda Busairi.
“Istri muda Busairi orang Probolinggo, ini yang tua tidak mau diajak ke sana. Mau di sini saja sama saya. Saya ini mertuanya,” kata Jumina.
Jumina mengaku, bahwa Busairi anak pertamanya. Jumina memiliki dua anak. Putranya yang nomor dua sudah punya dua anak.
Sedangkan Busairi punya dua istri tanpa dikaruniai seorang anak. “Istri yang muda ini rela tinggal satu rumah yang tua juga rela tinggal satu rumah. Mau gimana lagi sudah jodoh,” katanya.
Kehidupan putranya nampak bahagia meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap. Jika ada pekerjaan, maka akan bekerja.
Jika sudah tidak ada, mereka hanya diam di rumah dan mencari rumput untuk makan sapi.
“Anak saya buruh tani, kadang jualan bakso. Sekarang istirahat tidak ada pekerjaan,” pungkas Jumina. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin