RADAR SITUBONDO – KH Ach. Hariri Abdul Adhim lahir di Bululawang Kota Malang pada tanggal 08 Maret 1956.
Sedari kecil putra dari pasangan bapak Abdul Adhim dan Hj Nadhiroh ini harus menempuh pendidikan umum di Malang. Mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai tingkat sekolah menengah atas (SMA).
Setelah itu, Kiai Hariri melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Kiai Hariri Abdul Adhim berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang agama yang kuat.
Beliau lahir di sebuah keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam, terutama dalam dunia pesantren. Keluarga beliau dikenal memiliki kontribusi dalam dunia pendidikan Islam dan dakwah di Indonesia.
Sejak usia muda, Kiai Hariri Abdul Adhim sudah mulai mendalami ilmu agama, baik melalui pengajaran di pesantren maupun melalui kajian-kajian ilmiah lainnya.
Banyak di antara ulama yang belajar dan berdakwah di berbagai pesantren besar di Indonesia dan Timur Tengah, yang memungkinkan mereka mendapatkan pemahaman agama yang lebih mendalam.
Sekarang Kiai Hariri Abdul Adhim dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki pengetahuan luas dalam berbagai disiplin ilmu Islam, termasuk fiqh, tafsir, hadis, dan tasawuf.
Beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, memberikan pengajaran dan membimbing umat dalam mempraktikkan ajaran agama Islam secara benar.
Kemudian KH. Hariri Abdul Adhim adalah seorang ulama dan tokoh agama yang memiliki peran penting di dunia pesantren, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Beliau dikenal sebagai wakil pengasuh bidang maaliyah di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyahSukorejo Situbondo Jawa Timur dan sebagai mudir Ma’had Aly di pesantren tersebut.
Pesantren ini adalah salah satu pesantren yang berafiliasi dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah dan mengajarkan berbagai ilmu agama Islam secara klasik maupun modern.
Sejak menikah dengan Nyai Hanik, Kiai Hariri terus memperdalam ilmu agama. Terus belajar ilmu-ilmu dasar bahasa Arab secara otodidak dengan cara menghafal. Baik ilmu Nahwu dan Saraf.
Pada tahun 1978, Kiai Hariri sukses menyelesaikan studinya di Fakultas Dakwah IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo, yang kini sudah menjadi Universitas Nurul Jadid.
Sejak itu, Kiai Hariri mendalami ilmu Tasawuf. Ia sangat mengidolakan dan mendalami ilmu dari Syekh Abdul Qadir Jailani.
Selama mengajar di Ma’had Aly, kitab yang istiqomah dibaca untuk para santrinya adalah Kitab Ihya’ Ulumiddin, karya Syekh Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad Abu Hamid al-Ghazali.
Kiai Hariri mulai tertarik dengan dunia tasawuf sejak usia 20 tahun. Kiai Hariri secara intens mengajar ilmu tasawuf kepada para santri Ma’had Aly.
Untuk mematangkan ilmu tasawuf, Kiai Hariri secara khusus belajar kepada para masyayikh yang memang benar-benar pakar di bidangnya.
Kiai Hariri wafat pada hari Rabu, tanggal 7 November 2018. Jenazahnya dikebumikan di Komplek pemakaman Pahlawan Nasional KHR As’ad Syamsul Arifin.
Lokasinya berada di belakang Masjid Jami’ Ibrahimy Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. (*)
- Penulis: AHMAD IHYA
- Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo