RADARSITUBONDO.ID - Setelah fenomena "quiet quitting" menjadi tren di media sosial, kini muncul suatu tren baru yang juga menjadi perhatian dalam dunia pekerjaan yaitu "quiet cracking".
Istilah ini diperkenalkan oleh TalentLMS dan merujuk pada kondisi di mana karyawan secara perlahan mengalami penurunan kepuasan kerja yang tidak terlihat.
Definisi dan Konsep Quiet Cracking
Quiet cracking dapat dijelaskan sebagai "pengikisan kepuasan di tempat kerja dari dalam", yang menandakan ketidakminatan karyawan yang sedikit demi sedikit "retak" akibat tekanan dari tanggung jawab pekerjaan mereka.
Berbeda dengan burnout atau quiet quitting yang lebih mudah dikenali, quiet cracking nampak melalui penurunan motivasi, komitmen, dan produktivitas yang berlangsung secara bertahap.
Menyusuri perbedaan dengan burnout atau quiet quitting, quiet cracking memiliki ciri-ciri yang lebih sulit untuk dideteksi. Prosesnya yang lambat dan bertahap secara perlahan merusak rasa harga diri dan motivasi.
Fenomena ini menyebabkan penurunan motivasi, keikutsertaan di lingkungan kerja, dan kesejahteraan, sehingga membuat karyawan merasa bingung, terjebak, tidak didengar, dan ragu tentang masa depan mereka.
Penelitian terbaru telah mengungkapkan seberapa luas fenomena ini. Survei yang dilakukan oleh TalentLMS menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden mengalami "quiet cracking" dalam pekerjaan mereka, dengan sekitar 20% melaporkan mengalami hal ini "secara terus-menerus".
Data ini didukung oleh laporan Gallup State of the Global Workplace yang mencatat bahwa hanya 23% karyawan di seluruh dunia aktif terlibat dalam pekerjaan mereka, menunjukkan adanya masalah disengagement yang cukup besar.
Laporan Gallup 2025 bahkan mencatat temuan serupa, yang menunjukkan bahwa 52% karyawan di Amerika Utara "tidak terlibat" dalam pekerjaan mereka, dan 17% "secara aktif tidak terlibat".
Gejala dan Tanda-Tanda Quiet Cracking
Quiet cracking mempunyai ciri khas yang berbeda dari masalah tempat kerja lainnya. Karyawan mungkin menyelesaikan tugas dasar mereka tetapi kurang menunjukkan antusiasme atau inisiatif yang pernah mereka miliki dan dapat terlihat menarik diri secara emosional.
Beberapa tanda yang bisa dikenali antara lain:
Perubahan Perilaku Kerja:
- Penurunan motivasi yang sulit dijelaskan
- Kehilangan antusiasme terhadap proyek baru
- Menyelesaikan tugas hanya pada tingkat minimum yang diperlukan
- Partisipasi yang berkurang dalam diskusi tim atau sesi brainstorming
Aspek Emosional:
- Perasaan yang stagnan dan minim tujuan
- Kebingungan mengenai arah karir
- Merasa tidak dihargai atau tidak didengar
- Kehilangan rasa bangga terhadap pekerjaan
Dampak Sosial:
Karyawan yang terdampak cenderung enggan mengambil tanggung jawab tambahan, berbagi ide dengan rekan tim, atau menghadiri acara perusahaan/tim.
Istilah "quiet cracking" pertama kali dikenalkan oleh TalentLMS, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sistem manajemen pembelajaran, melalui penelitian mereka di awal tahun 2025.
Seperti halnya fenomena quiet quitting dan quiet vacationing sebelumnya, quiet cracking mencerminkan ketidakpastian yang dialami pekerja akibat kondisi ekonomi saat ini.
Fenomena ini muncul sebagai evolusi dari berbagai tren tempat kerja yang telah muncul dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari The Great Resignation hingga quiet quitting.
TalentLMS mendeskripsikan quiet cracking sebagai rasa kelelahan dan stagnasi yang menetap yang mengarah kepada disengagement, kinerja yang menurun, dan dorongan untuk secara diam-diam mencari pekerjaan lain.
Penyebab Utama Quiet Cracking
Quiet cracking biasa terjadi karena karyawan merasa tidak didukung oleh manajer mereka dan terjebak dalam posisi yang mereka jalani. Tanpa adanya kemajuan yang jelas dan minimnya tujuan, karyawan mungkin mempertanyakan makna dari peran mereka.
Faktor pemicu meliputi:
- Manajemen yang buruk dan kurangnya dukungan dari atasan
- Tidak adanya jalur karir yang jelas
- Beban kerja yang tidak seimbang
- Minimnya pengakuan atas kontribusi yang telah diberikan
- Komunikasi yang tidak efektif antara manajemen dan staf
Pola yang terlihat dalam quiet cracking menunjukkan bahwa ketidaklibatan berujung pada penurunan kinerja, yang pada akhirnya dapat menyebabkan pengunduran diri. Dalam jangka panjang, ini bisa mengurangi semangat tim, hubungan, dan kepercayaan di antara anggota.
Perusahaan yang mengabaikan sinyal awal ketidaklibatan ini berisiko mengalami:
- Penurunan kinerja secara keseluruhan
- Tingkat pengunduran diri yang tinggi
- Moral tim yang menurun
- Tingginya biaya untuk rekrutmen dan pelatihan
- Strategi Pencegahan dan Penanganan
Para ahli menyoroti pentingnya kepemimpinan yang efektif, komunikasi yang jujur, dan keterlibatan aktif untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan perubahan yang terus berlangsung di dunia kerja saat ini, kesehatan emosional dan strategi untuk melibatkan karyawan menjadi semakin penting.
Quiet cracking berfungsi sebagai pengingat bahwa masalah di tempat kerja tidak selalu terlihat dengan jelas. Perusahaan harus lebih peka terhadap tanda-tanda halus dari ketidaklibatan dan mengambil tindakan proaktif untuk menciptakan suasana kerja yang mendukung kesejahteraan mental dan profesional para karyawan.
- Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News