RADARSITUBONDO.ID - Bayangkan seorang ayah yang berusia sekitar 30 tahun, mengenakan kemeja putih yang pas, jeans ketat, dan sepatu kulit yang bagus.
Ia memegang secangkir latte panas di satu tangan, sedangkan tangan lainnya mendorong stroller mewah untuk bayi.
Inilah yang disebut sebagai "Latte Dad", sebuah fenomena yang kini dikenal luas di seluruh dunia.
Istilah "Latte Papa" atau "Latte Dad" awalnya berasal dari Swedia, yang menggambarkan para ayah yang mengambil cuti setelah kelahiran anak.
Ayah-ayah ini sering terlihat menikmati latte di kafe sambil bermain dengan anak-anak mereka, menunjukkan pendekatan baru dalam peran ayah.
Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Di Swedia, orang tua memiliki hak untuk mendapatkan 480 hari cuti melahirkan berbayar untuk setiap anak, yang bisa dibagi antara ayah dan ibu.
Masing-masing orang tua mendapatkan 90 hari cuti yang tidak bisa dipindahkan, memastikan ibu dan ayah memiliki waktu cukup untuk merawat dan berhubungan dengan bayi mereka.
Namun, ketenaran Latte Dad di media sosial menimbulkan pertanyaan penting, apakah ini benar-benar mengenai keterlibatan ayah yang lebih baik, atau hanya sekadar tren yang menarik untuk diabadikan di Instagram?
Para kritikus menyebut fenomena ini sebagai perpanjangan dari "sad beige parenting", tren dimana orang tua lebih mementingkan penampilan daripada kebutuhan nyata anak.
Mereka berpendapat bahwa Latte Dad cenderung lebih memperhatikan gaya sebagai ayah modern ketimbang benar-benar berperan aktif dalam pengasuhan.
Di sisi lain, para pendukung melihat Latte Dad sebagai simbol positif dari maskulinitas saat ini.
Mereka mencatat bahwa "pandangan tentang peran ayah telah berubah di Swedia dalam tujuh hingga delapan tahun terakhir", menunjukkan adanya perkembangan nyata dalam norma gender dan pengasuhan.
Tidak dapat dipungkiri, fenomena Latte Dad mencerminkan perubahan besar dalam hubungan keluarga masa kini.
Para ayah saat ini lebih terlibat dalam pemeliharaan anak sejak dini, bukan sekadar sebagai "bantuan" untuk ibu, tetapi sejajar sebagai orang tua yang setara.
Sayangnya, fenomena Latte Dad sulit untuk diterapkan di negara lain, termasuk Indonesia. Kebijakan cuti paternity leave yang terbatas, hanya dua hari di Indonesia sehingga membuat ayah sulit untuk menjadi Latte Dad yang sesungguhnya.
Latte Dad memang memiliki aspek estetika yang kuat, namun fenomena ini juga menunjukkan perubahan mendasar dalam pemikiran tentang maskulinitas dan pengasuhan kekinian.
Hal yang terpenting bukanlah kopi atau penampilan yang diusung, tetapi kehadiran dan keterlibatan nyata ayah dalam pengasuhan anak.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin