Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Mitos atau Fakta: Bisakah Gaya Hidup Sederhana Menjamin Umur Panjang Hingga Seabad?

Bayu Shaputra • Selasa, 19 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Seorang nenek berusia 100 tahun sedang berkebun dengan cucu cucunya.
Seorang nenek berusia 100 tahun sedang berkebun dengan cucu cucunya.

RADARSITUBONDO.ID - Pernah ngga sih berpikir mengapa beberapa orang bisa hidup hingga 100 tahun dengan kesehatan yang baik? Penelitian terbaru dari berbagai lembaga di dunia mulai mengungkap rahasia genetik dan cara hidup para centenarian, sebutan untuk orang yang berusia di atas 100 tahun.

Studi terbaru menunjukkan bahwa orang yang mencapai usia 100 tahun memiliki jumlah mutasi gen yang 11-22% lebih sedikit dibandingkan kelompok lainnya. Tim peneliti dari berbagai universitas terkenal berhasil menemukan 35 gen tertentu yang mengalami pengurangan mutasi pada individu yang berusia 100 tahun ke atas. Hal ini menyiratkan bahwa faktor genetik mempunyai peran penting dalam menentukan umur panjang.

Lebih menarik lagi, efek perlindungan genetik ini tidak hanya berlaku untuk centenarian tetapi juga terlihat pada anak-anak mereka. Ini menunjukkan kemungkinan bahwa kemampuan hidup lama memiliki unsur keturunan yang kuat dan dapat diwariskan.

Dari segi gizi, penelitian mendalam tentang Blue Zones, daerah dengan populasi tertua di dunia, menemukan pola makan yang sama. Meta-analisis terhadap 154 survei diet di lima Blue Zones menunjukkan bahwa 95 persen orang berusia 100 tahun mengikuti diet berbasis tanaman, yang mencakup konsumsi kacang-kacangan dalam jumlah besar.

Kacang-kacangan, seperti kedelai dan lentil, menjadi dasar makanan hampir semua centenarian. Daging, terutama daging babi, hanya dimakan rata-rata 5 kali sebulan dengan porsi sekitar 3-4 ons. Pola ini menunjukkan pentingnya protein nabati sebagai sumber penting untuk hidup lama.

Sayuran hijau seperti bayam, kangkung, bit, lobak, sawi, dan collard adalah makanan terbaik untuk umur panjang yang dimakan saat musimnya, kemudian diasinkan atau dikeringkan untuk dikonsumsi di luar musim.

Walaupun gaya hidup mereka sedikit berbeda, mereka umumnya mengonsumsi makanan berbasis tanaman, berolahraga secara rutin, minum alkohol dalam batas wajar, tidur cukup, serta memiliki jaringan spiritual, keluarga, dan sosial yang baik. Semua faktor gaya hidup ini telah terbukti secara ilmiah terkait dengan umur panjang.

Menariknya, orang di Blue Zones cenderung mengonsumsi makanan dalam porsi kecil sampai sedang, yang membantu mereka menjaga berat badan yang sehat. Praktik ini sejalan dengan konsep pembatasan kalori yang sudah lama dikaitkan dengan hidup lama dalam penelitian laboratorium.

Boston University School of Medicine juga telah membuat repositori sel punca untuk mempelajari centenarian. Inisiatif ini bertujuan untuk memahami mekanisme seluler yang membuat seseorang bisa mencapai usia 100 tahun dengan kesehatan yang baik.

Penelitian jangka panjang selama 35 tahun di Swedia menunjukkan bahwa centenarian memiliki profil biomarker darah yang berbeda dibandingkan orang yang lebih muda. Profil biomarker ini terlihat bahkan ketika mereka masih berusia antara 64-99 tahun, menunjukkan bahwa "benih" kemampuan hidup lama sudah bisa dikenali jauh sebelum seseorang mencapai 100 tahun.

Temuan ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang proses penuaan alami, tetapi juga membuka kemungkinan untuk mengembangkan intervensi yang dapat memperpanjang usia sehat manusia.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang genetik dan gaya hidup centenarian, kita mungkin bisa mengadopsi strategi serupa untuk meningkatkan kemungkinan hidup lama dengan kualitas hidup yang baik.

Namun, para ahli menekankan bahwa hidup lama bukan hanya soal gen atau makanan, tetapi merupakan interaksi rumit antara faktor genetik, lingkungan, sosial, dan spiritual yang bekerja sama sepanjang hidup.


Editor : Ali Sodiqin
#Centenarian #gaya hidup #umur panjang