RADARSITUBONDO.ID - Sejarah penjajahan di dunia mencerminkan bagaimana dua negara besar Eropa yaitu Belanda dan Inggris, menerapkan gaya pemerintahan yang sangat berbeda di tanah jajahannya.
Walaupun keduanya memiliki keinginan serupa untuk menguasai sumber daya alam dan jalur perdagangan penting, cara mereka mengelola koloni sangat berbeda.
Belanda menggunakan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk fokus pada eksploitasi ekonomi secara langsung.
Kebijakan yang diterapkan di Indonesia termasuk monopoli perdagangan, kerja paksa, sewa tanah, dan sistem tanam paksa. Rakyat setempat dipaksa untuk menanam tanaman seperti kopi, teh, dan rempah-rempah yang laku di pasar Eropa.
Di sisi lain, Inggris mengembangkan sistem yang lebih kompleks dengan menggabungkan kontrol politik dan ekonomi.
Di India, mereka menerapkan cara yang lebih teratur dalam pemerintahan, menciptakan birokrasi yang rumit untuk mengelola wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan dengan Indonesia.
Perbedaan yang jelas terlihat dalam cara pemerintah melakukan pengendalian tidak langsung. Contoh penerapan sistem tidak langsung oleh pemerintah Belanda adalah dengan menjadikan raja sebagai alat kekuasaan mereka.
Belanda mempertahankan struktur kerajaan lokal tetapi menjadikan penguasa lokal sebagai wakil mereka.
Di Inggris, terutama di India, mereka menggunakan pendekatan yang lebih sistematis. Beberapa koloni Inggris diperintah langsung oleh Kantor Kolonial di London, sementara lainnya diperintah secara tidak langsung melalui penguasa lokal yang diawasi oleh penasihat Inggris.
Mereka menciptakan sistem administrasi ganda, mengontrol wilayah strategis secara langsung sambil menjaga kerajaan kecil di bawah pengawasan ketat.
Pendidikan menjadi faktor pembeda terbesar antara dua sistem kolonial ini. Sistem sekolah Belanda diperluas dan memungkinkan pemuda Indonesia untuk bersekolah, dengan sekolah-sekolah terkemuka menerima anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia dari kalangan atas. Namun, pendidikan ini tetap terbatas dan bersifat diskriminatif terhadap etnis.
Sementara itu, Inggris di India menggunakan pendekatan yang berbeda dengan menciptakan sistem pendidikan yang lebih luas untuk membentuk kelas menengah lokal yang dapat membantu dalam pemerintahan kolonial.
Mereka membutuhkan birokrat lokal yang dapat berbicara dalam bahasa Inggris untuk mengelola wilayah yang sangat luas.
Perbedaan sistem ini membawa dampak yang berbeda pula. Kembalinya Belanda ke Indonesia pada tahun 1815 menandai awal mula kolonialisme modern di sana. Bersamaan dengan era baru ini, sistem administrasi modern mulai diterapkan di abad 19.
Sistem Belanda yang berfokus pada eksploitasi ekonomi menciptakan ketergantungan yang kuat pada sektor pertanian dan perkebunan.
Di sisi lain, sistem Inggris yang lebih rumit di India menghasilkan struktur birokrasi dan infrastruktur yang lebih maju, namun juga menciptakan stratifikasi sosial yang lebih kompleks.
Infrastruktur kereta api, telegraf, dan administrasi sipil yang dibangun oleh Inggris di India jauh lebih berkembang dibandingkan dengan yang ditinggalkan Belanda di Indonesia.
Kedua sistem kolonial ini meninggalkan dampak yang berbeda di negara-negara bekas jajahan mereka.
Indonesia mewarisi sistem perkebunan dan ketergantungan pada ekspor barang-barang utama, sementara India menerima sistem birokrasi dan infrastruktur yang lebih kompleks serta masalah sosial yang lebih rumit.
Perbedaan mendasar ini menunjukkan bahwa meskipun tujuan akhirnya serupa, mengeksploitasi kekayaan koloni untuk keuntungan negara penjajah, strategi yang digunakan sangat berpengaruh pada karakter dan perkembangan masa depan negara-negara yang dijajah.
- Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News