Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Menguak Ritual Ekstrem dalam Film Lintrik: Antara Mitologi dan Kontroversi

Bayu Shaputra • Kamis, 28 Agustus 2025 | 17:35 WIB
Official Trailer Film Lintrik: Ilmu Pemikat (2025).
Official Trailer Film Lintrik: Ilmu Pemikat (2025).

RADARSITUBONDO.ID - Dunia film di Indonesia kembali ramai dengan munculnya karya kontroversial yang berani mengangkat tema yang dianggap tabu.

"Lintrik: Ilmu Pemikat" yang disutradarai oleh Irham Acho Bahtiar menceritakan tentang ilmu pengasihan dari Jawa yang penuh misteri, serta memicu kontroversi karena menyampaikan ritual ekstrem tanpa pakaian.

Film ini direncanakan untuk ditayangkan pada bulan September 2025 dan mengusung tema yang berbeda dari biasanya dalam sinema Indonesia.

Cerita horor yang mencakup adegan menyeramkan mengenai ritual pengasihan khas Banyuwangi yang disebut Lintrik menjadi pusat perhatian sekaligus topik perdebatan di kalangan penonton.

 Baca Juga: Prediksi Pertandingan Inter Miami Vs Orlando City di Semifinal Leagues Cup 2025

Dalam perkembangan dunia film di dalam negeri, "Lintrik" hadir sebagai bukti keberanian pembuat film lokal dalam menggali warisan budaya yang selama ini dianggap sensitif.

Film dengan genre drama psikologis ini bukan hanya menawarkan elemen horor biasa, tetapi juga menggali lebih dalam aspek spiritual dan mistis yang ada dalam tradisi Jawa.

Praktik pengasihan atau ilmu pemikat yang ada dalam film ini bukanlah hal yang baru dalam kepercayaan masyarakat Indonesia, terutama di Jawa Timur.

Namun, cara yang diambil oleh sutradara dalam menggambarkan ritual tersebut menimbulkan pro dan kontra, terutama terkait dengan paparan ritual yang dianggap terlalu vulgar.

 Baca Juga: Preview LaLiga 2025-26: Celta Vigo Nekat Hajar Real Betis Demi Kemenangan Pertama

Keputusan untuk menunjukkan adegan tanpa busana dalam konteks ritual spiritual menjadi pokok kontroversi utama. Banyak kritikus yang mempertanyakan batasan yang wajar dalam menggambarkan tradisi yang suci, sementara pendukung film berpendapat bahwa ini adalah bentuk kebebasan berkesenian dan usaha yang tulus untuk mendokumentasikan budaya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada film-film kontroversial sebelumnya yang mengangkat tema keagamaan dan spiritual. Perdebatan yang serupa juga pernah terjadi pada karya-karya perfilman yang mencoba mengeksplorasi aspek kepercayaan masyarakat dengan pendekatan yang dianggap berani atau bahkan provokatif.

Kehadiran "Lintrik" dapat dilihat sebagai bagian dari kecenderungan film yang bertemakan budaya lokal yang semakin diminati oleh penonton di Indonesia. Film ini menunjukkan bahwa para pembuat film di tanah air tidak lagi takut untuk mengangkat tema yang selama ini dihindari, meskipun harus menghadapi risiko kontroversi.

Dari segi komersial, kontroversi yang mengelilingi film ini malah bisa menjadi daya tarik tersendiri. Namun, ini juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab moral industri film dalam menyajikan konten yang berhubungan dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat.

Terlepas dari pro dan kontra yang menyertainya, "Lintrik: Ilmu Pemikat" berhasil menarik perhatian publik dan memicu diskusi mengenai batas-batas kebebasan berkesenian di Indonesia. Film ini menjadi cerminan dari dinamika sosial budaya modern yang masih berjuang antara nilai-nilai tradisional dan modernitas.


Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Lintrik Ilmu Pemikat 2025