Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

FOMO! Ketika Takut Tertinggal Menjadi Momok Generasi Z

Bayu Shaputra • Rabu, 3 September 2025 | 22:00 WIB
Seorang wanita yang tengah cemas karena tertinggal trends terbaru di media sosial.
Seorang wanita yang tengah cemas karena tertinggal trends terbaru di media sosial.

RADARSITUBONDO.ID - Fear of Missing Out atau FOMO adalah fenomena psikologis yang mengkhawatirkan bagi generasi sekarang. Istilah ini diciptakan oleh Patrick J pada tahun 2004, tetapi baru relevan di era media sosial saat ini.

FOMO adalah kecemasan saat merasa tertinggal dari pengalaman menarik yang dilakukan orang lain. Ini bukan sekadar penasaran, tetapi kecemasan mendalam yang membuat orang terus memantau aktivitas orang lain di platform digital.

 Baca Juga: Bagaimana Itel Super 26 Ultra Bisa Ultra Tipis dengan Baterai 6.000mAh?

Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan Twitter memungkinkan orang menampilkan versi terbaik hidup mereka. Timeline yang berisi foto-foto menarik menciptakan ilusi bahwa hidup orang lain lebih baik.

Algoritma media sosial yang meningkatkan engagement juga berkontribusi, menampilkan konten menarik dan menciptakan siklus konsumsi yang menimbulkan kecemasan.

 Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Itel Super 26 Ultra: Apakah Layak Dibeli?

Generasi digital, terutama Gen Z dan Millennial, hidup di era di mana validasi sosial diukur berdasarkan likes, comments, dan followers. Melihat postingan orang lain yang sukses mendapat respons tinggi membuat mereka merasa harus melakukan hal serupa.

Smartphone memberikan akses ke informasi tanpa batas waktu. Notifikasi dari berbagai aplikasi menciptakan kebiasaan untuk selalu terhubung, bahkan saat seharusnya istirahat.

Dampak Negatif FOMO terhadap Kesehatan Mental

Tingkat Stress dan Kecemasan yang Meningkat

Penelitian menunjukkan individu dengan FOMO cenderung memiliki kortisol lebih tinggi. Mereka merasa gelisah tanpa akses media sosial atau saat melihat orang lain beraktivitas.

Gangguan Pola Tidur

Scrolling media sosial larut malam mengganggu siklus tidur. Blue light dari layar mengurangi produksi melatonin yang mengatur ritme sirkadian.

Penurunan Fokus dan Produktivitas

FOMO menyebabkan kebutuhan obsesif untuk multitasking digital. Seseorang yang mengerjakan tugas penting terhalang oleh notifikasi atau keinginan mengecek update.

Masalah Finansial

Dorongan untuk tidak tertinggal sering memicu pengeluaran impulsif. Melihat teman berlibur atau membeli gadget terbaru bisa membuat orang merasa harus melakukan hal yang sama meski tidak sesuai kemampuan finansial.

Mengidentifikasi Tanda-Tanda FOMO

Indikator FOMO meliputi, mengecek media sosial lebih dari 50 kali sehari, cemas saat baterai handphone habis, sulit menikmati momen karena mendokumentasikan untuk media sosial, membandingkan pencapaian diri secara berlebihan, dan menurun kepuasan hidup meski tidak ada masalah objektif.

 Baca Juga: Mengapa Gen Z Harus Menguasai Soft Skill untuk Bertahan di Dunia Kerja yang Semakin Kompetitif?

Lakukan digital detox secara berkala dan tetapkan batasan waktu penggunaan media sosial. Fokus pada praktik rasa syukur dengan mencatat hal-hal positif dalam hidup. Bangun koneksi bermakna di dunia nyata. Konsultasi dengan profesional kesehatan mental disarankan jika FOMO mengganggu kehidupan sehari-hari.


Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Stop fomo dalam hal negatif