Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Perubahan Persepsi Pernikahan: Apakah 'Marriage is Scary' Sinyal Perubahan Zaman?

Bayu Shaputra • Senin, 15 September 2025 | 01:00 WIB
Seorang wanita yang teangah gelisah karena maraknya tren Marriage Is Scary.
Seorang wanita yang teangah gelisah karena maraknya tren Marriage Is Scary.

RADARSITUBONDO.ID - Tren "Marriage is Scary" telah viral di media sosial tahun lalu, khususnya TikTok dan Twitter, memicu diskusi tentang persepsi modern terhadap pernikahan. Tren ini mencerminkan kekhawatiran generasi muda terhadap institusi pernikahan yang sudah lama ada.

Tren ini mengumpulkan cerita buruk atau kekerasan dalam pernikahan, menciptakan narasi menakutkan tentang hidup berumah tangga.

TikTok menjadi platform utama untuk konten yang menunjukkan sisi gelap pernikahan, termasuk pelecehan domestik dan ketidaksetaraan gender.

 Baca Juga: Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy S25 FE: Keunggulan & Perbedaan dengan S24 FE

Lima tema utama yang mendorong fenomena ini, ketakutan terhadap pasangan, ketidakpastian masa depan, konflik domestik, kekhawatiran finansial, dan pengaruh media sosial. Ketakutan terhadap pasangan mendominasi, dipengaruhi pengalaman pribadi dan narasi negatif.

Media sosial memperkuat narasi negatif tentang pernikahan. Algoritma TikTok dan Instagram cenderung memprioritaskan konten emosional, termasuk cerita traumatis pernikahan gagal, menciptakan echo chamber bagi generasi muda dengan perspektif pesimistis.

Faktor ekonomi juga berperan. Biaya hidup yang tinggi, ketidakstabilan pekerjaan, dan beban finansial untuk pernikahan membuat banyak orang muda meragukan relevansi dan prioritas pernikahan.

Tren 'Marriage is Scary' dapat merugikan generasi muda. Narasi-narasi ini dapat menanamkan ketakutan dan menghambat hubungan jangka panjang, bahkan menyebabkan keengganan untuk menikah.

Generasi Z, dengan akses luas ke informasi lewat internet, mengalami paradoks informasi. Mereka memiliki akses ke edukasi tentang hubungan sehat dan kesadaran terhadap tanda bahaya dalam pernikahan, tetapi juga terpapar informasi negatif yang dapat mendistorsi persepsi mereka tentang pernikahan.

 Baca Juga: Samsung Galaxy S25 FE: Worth It atau Skip? Review Ponsel Flagship Terjangkau 2025

Berdasarkan data dan pola yang ada, tren "Marriage is Scary" berpotensi menjadi fenomena global dengan beberapa alasan:

Globalisasi Media Sosial: TikTok, Instagram, dan YouTube memungkinkan penyebaran cepat konten lintas negara. Tren dari satu negara bisa menyebar global dalam hitungan hari.

Kesamaan Tantangan Global: Isu seperti ketidaksetaraan gender, kekerasan domestik, dan tekanan ekonomi adalah masalah yang dihadapi generasi muda di berbagai negara, membuat narasi "Marriage is Scary" relevan secara global.

Perubahan Nilai Sosial: Peralihan dari nilai tradisional ke individualisme modern memunculkan skeptisisme terhadap institusi seperti pernikahan.

Namun, variasi kultural yang signifikan perlu dipertimbangkan. Negara dengan nilai tradisional mungkin menunjukkan resistensi, meski tidak sepenuhnya kebal dari pengaruhnya. 

Tren "Marriage is Scary" adalah manifestasi perubahan sosial yang lebih dalam. Data menunjukkan kekhawatiran dalam tren ini berdasarkan realitas penurunan tingkat pernikahan global.

Namun, penting untuk tidak menganggap pernikahan selalu "menakutkan". Tren ini mencerminkan kebutuhan akan edukasi tentang hubungan sehat, komunikasi efektif, dan persiapan mental-emosional untuk komitmen jangka panjang.

Ke depan, ada kemungkinan polarisasi: sebagian generasi muda semakin skeptis terhadap pernikahan, sementara yang lain lebih selektif dalam memilih pasangan. Diskusi tentang pernikahan harus berdasarkan informasi akurat dan seimbang, bukan hanya narasi ekstrem viral di media sosial.


Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Tren Marriage Is Scary