Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

5 Realitas Hidup yang Membuat Gen Z Ragu Memasuki Gerbang Pernikahan

Bayu Shaputra • Senin, 15 September 2025 | 01:30 WIB
Seorang pria yang sedang merenung karena maraknya tren Marriage Is Scary.
Seorang pria yang sedang merenung karena maraknya tren Marriage Is Scary.

RADARSITUBONDO.ID - Pernikahan kini dianggap menakutkan bagi Generasi Z. Survei menunjukkan generasi 1997-2012 memiliki pandangan berbeda tentang pernikahan dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena "marriage is scary" mencerminkan perubahan nilai dan tantangan hidup mereka.

 Baca Juga: Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy S25 FE: Keunggulan & Perbedaan dengan S24 FE

Tekanan Ekonomi dan Ketidakstabilan Finansial

Gen Z tumbuh di masa krisis ekonomi, seperti resesi 2008 dan pandemi COVID-19. Mereka melihat orang tua berjuang dengan utang dan biaya hidup.

Tingkat pengangguran lulusan universitas di Indonesia mencapai 5,73% pada 2024, membuat Gen Z khawatir tidak bisa membiayai keluarga.

Biaya pernikahan yang tinggi dan harga rumah yang meningkat membuat pernikahan terasa beban finansial. Banyak Gen Z menunda menikah hingga merasa "cukup stabil" secara ekonomi.

 Baca Juga: Fitur AI & Smart Tools di Samsung Galaxy S25 FE yang Wajib Dicoba

Trauma Generational dari Perceraian Orang Tua

Gen Z tumbuh di tengah tingginya angka perceraian. Mereka menyaksikan konflik dan dampak psikologis dari perceraian orang tua. Pengalaman ini menimbulkan ketakutan bahwa pernikahan mereka juga akan gagal.

Gen Z lebih sadar akan kemungkinan kegagalan dan memilih hati-hati dalam menjalin hubungan. Mindset "lebih baik sendirian daripada dalam hubungan yang toxic" menjadi prinsip mereka.

 Baca Juga: 128GB, 256GB, atau 512GB? Mana Varian Galaxy S25 FE yang Paling Worth It?

Kesadaran Tinggi akan Kesehatan Mental

Generasi Z sangat sadar akan kesehatan mental. Mereka tahu bahwa pernikahan yang tidak sehat dapat menyebabkan masalah mental. Cerita tentang kekerasan dan manipulasi di media sosial membuat mereka lebih waspada.

Gen Z memprioritaskan self-love dan pertumbuhan pribadi sebelum menikah. Konsep "you can't love others if you don't love yourself" menjadi filosofi yang kuat.

Ekspektasi Perfeksionisme dari Media Sosial

Platform seperti Instagram dan TikTok menciptakan standar pernikahan yang tidak realistis. Gen Z terpapar pada gambaran pernikahan yang glamor dan sempurna, menimbulkan tekanan untuk memiliki pernikahan "Instagram-worthy. " Mereka khawatir tidak bisa memenuhi ekspektasi sosial tentang pernikahan bahagia. Perfeksionisme ini membuat mereka malah menghindari pernikahan.

 Baca Juga: Tips Memilih Mobil Listrik: Bagaimana N-One e dari Honda Menjawab Tantangan Kota

Prioritas pada Karier dan Self-Actualization

Gen Z sangat ambisius dalam karier dan pencapaian pribadi. Mereka melihat pernikahan sebagai hambatan untuk mencapai tujuan profesional, terutama perempuan yang khawatir terjebak dalam peran tradisional.

Konsep work-life balance membuat mereka enggan mengambil tanggung jawab tambahan dari pernikahan. Mereka ingin fokus pada pengembangan diri, traveling, hobi, dan passion project sebelum berkomitmen jangka panjang.

 Baca Juga: Honda Keluarkan Mobil Listrik N-One e: Spesifikasi Lengkap, Harga dan Jarak Tempuh

Fenomena "marriage is scary" di kalangan Gen Z bukan penolakan terhadap cinta, tetapi respons rasional terhadap kompleksitas kehidupan modern.

Mereka tidak anti-pernikahan, tetapi ingin memastikan bahwa ketika menikah, itu adalah keputusan yang matang dan berlandaskan fondasi yang kuat.

Memahami perspektif Gen Z penting agar masyarakat tidak memberikan stigma, tetapi dukungan untuk membantu mereka membuat keputusan hidup yang terbaik.


Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Tren Marriage Is Scary