RADARSITUBONDO.ID - Di era digital saat ini, kita dikelilingi layar gadget yang memancarkan blue light hampir 24 jam. Dari smartphone hingga laptop, blue light menjadi bagian penting dari kehidupan modern.
Namun, apakah blue light dan membaca di ruangan gelap memperparah mata minus? Mari kita telaah berdasarkan riset terkini.
Baca Juga: Panduan Lengkap Beli Honda Revo, Motor Bebek Terlaris untuk Kantong Tipis
Blue Light
Blue light memiliki panjang gelombang 380-500 nanometer dan bisa menembus retina. Penelitian Harvard menunjukkan bahwa blue light mengurangi melatonin dua kali lebih lama dibandingkan cahaya hijau dan mengubah ritme sirkadian dua kali lebih banyak.
Ini berarti paparan blue light di malam hari dapat mengganggu produksi melatonin dan ritme sirkadian.
Namun, studi Cochrane Review 2023 menunjukkan bahwa kacamata anti blue light belum terbukti efektif mengurangi kelelahan mata saat menggunakan komputer.
Menariknya, riset terbaru menunjukkan paparan singkat blue light dapat meningkatkan performa memori kerja otak.
Baca Juga: SMKN 1 Kendit Gelar Pameran Karya dan Oto Contest Spektakuler Meriahkan Dies Natalis ke-20
Dark Room Reading
Kebiasaan membaca dalam ruangan gelap menjadi kekhawatiran bagi orang tua. Penelitian dari jurnal Scientific Reports menemukan bahwa membaca teks gelap di latar belakang terang mengurangi ketebalan koroid dalam satu jam, sedangkan teks terang di latar belakang gelap meningkatkannya.
Temuan ini penting karena perubahan ketebalan koroid dapat mempengaruhi pertumbuhan bola mata dan melindungi dari progresi miopia.
Namun, kontras adalah kunci. Pencahayaan yang cukup diperlukan untuk fokus nyaman, dengan rasio kontras antara objek yang dibaca dan lingkungan seimbang.
Mata Minus
Berdasarkan data American Optometric Association, tingkat penggunaan layar tinggi terkait dengan risiko 30% lebih tinggi mengalami miopia. Masalah utama bukan screen time, melainkan aktivitas "near work" dalam durasi lama.
Spesialis mata membagi miopia menjadi simple myopia dan pathologic myopia. Simple myopia umumnya disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kurang aktivitas luar, sedangkan pathologic myopia lebih terkait faktor genetik.
Penelitian pada anak-anak menunjukkan cahaya terang dapat mempengaruhi kesalahan refraksi dan mencegah miopia melalui aktivasi jalur fotoreseptor dan ritme sirkadian.
Baca Juga: Jadi Wisata Andalan Sejak Lama, Pasir Putih Situbondo Hadir dengan Nuansa Berbeda
Strategi Perlindungan Mata yang Berbasis Sains.
Daripada menghindari blue light sepenuhnya, cara terbaik mengurangi paparan di malam hari adalah dengan mematikan sumbernya. Matikan atau redupkan lampu LED dan fluorescent, serta hindari perangkat elektronik setelah gelap.
Untuk membaca, terapkan prinsip 20-20-20, setiap 20 menit, lihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Sesuaikan pencahayaan ruangan agar tidak kontras dengan layar, dan duduk ergonomis dengan jarak baca minimal 50-60 cm.
Penting untuk lebih banyak beraktivitas di luar, terutama untuk anak-anak. Paparan sinar matahari adalah perlindungan terbaik terhadap perkembangan miopia dibanding kacamata anti blue light.
Baca Juga: Tak Tersambung Jalan Tol, Solusi Lain Atasi Kepadatan Lalu Lintas Pantura Situbondo ke Banyuwangi
Blue light bukanlah musuh utama mata minus. Membaca di ruangan gelap tidak merusak mata jika pencahayaan kontras tepat.
Yang perlu diwaspadai adalah gaya hidup modern yang kurang aktivitas luar dan banyak aktivitas dekat. Jadi, fokuslah pada gaya hidup seimbang dengan istirahat mata teratur dan aktivitas luar ruangan.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin