RADARSITUBONDO.ID - Avoidant attachment adalah pola perilaku di mana seseorang cenderung tidak ingin bergantung pada orang lain dan menjauhkan diri dari hubungan emosional.
Mereka merasa khawatir akan disakiti dan memilih untuk melakukan segalanya sendiri, meskipun terkadang mereka membutuhkan bantuan.
Pola ini sering dipahami melalui pengalaman masa kecil, di mana hubungan awal dengan pengasuh berperan penting.
Baca Juga: Mengapa Gen Z Mulai Menyukai Hobi Generasi Boomer?
Pengalaman negatif selama masa kanak-kanak, seperti sering ditinggalkan atau ditegur saat menunjukkan kebutuhan emosional, berkontribusi pada terbentuknya avoidant attachment.
Anak yang sering dibiarkan sendiri akan belajar bahwa mereka tidak bisa mengandalkan orang lain dan menjadi sangat mandiri.
Ketika tumbuh dewasa, refleks ini terbawa dan mereka meremehkan pentingnya hubungan, cenderung menghindari kedekatan emosional, bahkan saat menghadapi masalah.
Baca Juga: Cara Logout Akun Google dari Semua Perangkat Sekaligus
Dalam kehidupan sehari-hari, individu dengan avoidant attachment akan menunjukkan perilaku menghindar, terutama saat hubungan mulai dekat.
Mereka memilih untuk berdiam diri, merasa tidak mendapat dukungan, dan menjaga jarak dari orang lain untuk melindungi diri.
Ciri lainnya termasuk menghindari kontak mata, minimnya kontak fisik, dan meremehkan perasaan sendiri saat tertekan.
Baca Juga: Apa Saja Syarat Pendaftaran Magang Nasional 2025? Cek di Sini Sebelum Terlambat!
Penting untuk memahami bahwa avoidant attachment bukanlah kelemahan, melainkan respons terhadap lingkungan masa lalu.
Dengan pemahaman ini, pola perilaku ini bisa diperbaiki melalui terapi, terutama terapi perilaku kognitif, yang dapat membantu individu memahami dan mengubah cara berpikir dan berperilaku secara positif.
Menerima bahwa di balik perilaku penghindaran terdapat luka yang perlu disembuhkan adalah langkah awal yang penting.
Editor : Ali Sodiqin