RADARSITUBONDO.ID - Pernahkah Anda merasa jari-jari sudah berada di mulut saat sedang stres atau berpikir keras? Kebiasaan menggigit kuku, yang dikenal dalam istilah medis sebagai onychophagia, terjadi pada sekitar 20-30% orang di dunia. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini bisa memberi dampak besar pada kesehatan kita.
Baca Juga: DPC PPP Situbondo Turun ke Lokasi Gempa Banyuputih, Bukti Nyata Peduli Rakyat Bukan Cuma Saat Pemilu
Mengapa Kita Menggigit Kuku?
Stres dan rasa cemas menjadi penyebab utama. Ketika sistem saraf kita aktif, tubuh mencari cara untuk mengurangi ketegangan, dan menggigit kuku memberikan rasa "lega" sementara.
Aktivitas ini yang diulang-ulang bisa melepaskan endorfin yang membuat kita merasa lebih tenang. Kebiasaan yang dimulai sejak kecil dan terus dibawa ke dewasa juga jadi salah satu alasannya.
Anak yang mulai menggigit kuku saat berumur 3-4 tahun cenderung melanjutkan kebiasaan ini jika tidak dihentikan. Rasa ingin sempurna dan kebosanan juga berkontribusi.
Orang yang perfeksionis sering menggigit kuku sebagai cara mengekspresikan kekecewaan, sedangkan saat tidak ada yang dilakukan, tangan mencari sesuatu untuk dipegang.
Baca Juga: Mau Beli Realme 15 Series? Simak Dulu Plus-Minus yang Wajib Dipertimbangkan
Dampak yang Perlu Diwaspadai
Kebiasaan ini bukan hanya masalah penampilan. Ada risiko infeksi bakteri dan jamur karena bagian di bawah kuku bisa menyimpan banyak bakteri, termasuk E. coli dan Salmonella.
Jika ada luka di sekitar kuku, itu bisa menjadi jalan bagi kuman masuk ke dalam tubuh. Kerusakan pada gigi juga bisa terjadi.
Tekanan yang terus-menerus pada gigi depan dapat merusak lapisan gigi, dan orang yang menggigit kuku secara terus-menerus memiliki risiko gigi mereka patah meningkat hingga 15%.
Bahkan, masalah pada sendi rahang bisa muncul karena tekanan yang berulang. Pertumbuhan kuku yang tidak normal, seperti kuku yang tumbuh tidak rata atau mengalami deformasi permanen, bisa terjadi jika bagian tumbuh kuku rusak.
Cara Efektif Menghentikan Kebiasaan
Cat kuku yang terasa pahit mengandung bahan seperti denatonium benzoate yang aman digunakan tetapi membuat rasa tidak nyaman saat kuku menyentuh lidah.
Kenali apa yang memicu kebiasaan ini dengan mencatat saat-saat di mana itu muncul. Apakah saat rapat, menonton TV, atau membaca? Menyadari hal ini adalah langkah awal untuk mengubahnya.
Cobalah alat pengalih perhatian seperti mainan kecil untuk menggerakkan tangan, bola stres, atau meremas tisu untuk mengalihkan dorongan menggigit.
Merawat kuku secara rutin dengan manicure dapat membantu kita lebih memperhatikan dan tidak ingin merusak kuku yang sudah rapi.
Terapi perilaku kognitif bisa sangat membantu untuk kasus yang lebih serius, terutama jika menggigit kuku berkaitan dengan gangguan kecemasan atau OCD.
Ingat, menghilangkan kebiasaan ini butuh waktu antara 21 hingga 66 hari. Kunci untuk berhasil adalah tetap konsisten dan sabar.
Editor : Ali Sodiqin